Senin, 11 Jun 2018 10:15 WIB

Lolos Jeratan AS, Nasib Malang ZTE Diprediksi Berlanjut

Fino Yurio Kristo - detikInet
Komponen ponsel ZTE. Foto: Reuters Komponen ponsel ZTE. Foto: Reuters
Jakarta - ZTE setuju mematuhi seluruh persyaratan dari Amerika Serikat agar sanksi yang ditimpakan pada mereka dicabut. Salah satunya kewajiban membayar denda USD 1 miliar atau di kisaran Rp 13,9 triliun. Apakah ZTE sanggup?

Denda tersebut memang sangat besar. Apalagi ZTE juga belum lama membayar denda ke AS sebesar USD 1,2 miliar. Akan tetapi ZTE diyakini takkan begitu kesulitan karena mereka termasuk perusahaan teknologi besar.

Produsen ponsel dan infrastruktur telekomunikasi itu diperkirakan punya persediaan uang kas USD 4,7 miliar. "Kami yakin ZTE tak perlu sampai berhutang untuk membayar kewajiban ini," sebut perusahaan keuangan Jefferies.

Maka, hal yang dianggap lebih mengkhawatirkan adalah bagaimana masa depan bisnis ZTE setelah tersandung kasus dengan AS tersebut. Banyak karyawan ZTE merasa khawatir nasib malang perusahaan bakal berlanjut.

"Membayar denda itu bukanlah masalah. Kesulitan yang nyata adalah apa yang akan terjadi di masa depan bisnis kita, terutama di mancanegara. Soalnya kepercayaan pasar telah hilang," sebut salah seorang karyawan ZTE kepada Reuters yang dikutip detikINET.



ZTE tidak bisa berbuat banyak pasca terkena sanksi 7 tahun tidak boleh memakai teknologi AS di produk mereka karena melanggar aturan berbisnis dengan Korea Utara serta Iran. Sanksi itu berpotensi membuat ZTE kolaps karena teknologi AS sangat mereka andalkan.

Tidak ada cara selain memenuhi permintaan AS, yaitu perombakan manajemen dalam waktu 30 hari serta membayar denda USD 1 miliar. Pemerintah AS menekankan bahwa ini merupakan 'pengampunan' terakhir bagi ZTE sehingga jika mereka melakukan pelanggaran lagi, sanksi dari AS tidak dapat dicabut.

Chairman ZTE, Yin Yimin telah melayangkan surat permintaan maaf kepada karyawan, pemegang saham serta mitra bisnis. Mereka bernjani akan belajar dari kesalahan tersebut dan menekankan bahwa kasus ini adalah keselahan segelintir pegawai dan pemimpin ZTE.

"Kasus ini merefleksikan adanya masalah di kultur kepatuhan di perusahaan ini. Perusahaan pun harus membayar harga yang sangat mahal," tulisnya.



Rencana perubahan manajemen itu juga membuat karyawan ZTE cemas. Selain itu, bonus sudah pasti dipotong karena bisnis ZTE tengah terguncang.

"Jika banyak bos pergi di waktu bersamaan, bagaimana proses suksesi akan berjalan?," kata seorang karyawan ZTE yang tak mau disebut namanya. (fyk/fyk)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed