Seperti diberitakan sebelumnya, Intel dikabarkan menghentikan pengembangan prosesor Atom yang didesain untuk perangkat mobile, yaitu prosesor dengan kode SoFIA dan Broxton. Kegagalan semacam ini tak lepas dari dosa masa lalu Intel.
"Saya pikir kita semua sudah pindah dari era laptop dan PC ke era mobile, yang melibatkan aplikasi dan sebagainya. Dan seperti halnya Microsoft ketinggalan revolusi mobile, Intel juga demikian. Mereka tidak pernah benar benar membuat chip yang tepat untuk ponsel dan perangkat mobile," kata penulis buku teknologi terkenal, Walter Issacson.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Seseorang seperti Steve Jobs lebih mau melakukan kanibal bisnisnya. Jadi dia membuat pemutar musik iPod. Kemudian dia mau kanibal iPod dengan membuat iPhone. Jadi jika Anda mau bertahan, Anda harus mau melakukan hal semacam itu," jelas Walter yang detikINET kutip dari PCWorld.
Tahun 2007 saat generasi pertama iPhone muncul, Intel tak sigap dan tidak juga membuat prosesor untuk smartphone yang mumpuni. Alhasil mereka ketinggalan jauh dari ARM, yang teknologinya menjadi basis vendor seperti Qualcomm dan Samsung membuat chip mobile.
Kesalahan lain adalah Intel pernah terlalu percaya diri di pasar tablet. Tahun 2014, Intel pernah melakukan subsidi besar besaran agar chip Atom digunakan di sebanyak mungkin tablet. Namun ternyata pasar tablet terus merosot.
Kini Intel menggodok beragam strategi untuk kembali ke puncak. Mereka beralih fokus ke microchip di data center dan perangkat terkoneksi internet atau Internet of Things. Mereka ingin terlibat dalam era teknologi 5G. Biro riset Gartner sudah memprediksi ada 20,8 miliar perangkat terkoneksi internet yang akan digunakan di tahun 2020.
(fyk/ash)