Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network
detikInet
600 Juta Tahun Lalu, Ada Superbenua di Bumi dan Itu Bukan Pangea

600 Juta Tahun Lalu, Ada Superbenua di Bumi dan Itu Bukan Pangea


Agus Tri Haryanto - detikInet

Ilustrasi peta benua Eropa
Foto: Pexels/Aliaksei Lepik
Jakarta -

Sebelum terpisah menjadi tujuh benua seperti saat ini, dulunya diyakini bahwa Bumi berada dalam satu wilayah superkontinen atau superbenua. Pannotia disebut-sebut merupakan superbenua yang lebih tua.

Sejauh ini peneliti telah sepakat akan keberadaan Pangea, superbenua yang terbentuk sekitar 300 juta tahun. Namun rupanya ada superkontinen lain bernama Pannotia yang lebih tua.

Menurut penelitian, dikutip dari IFL Science, Jumat (16/1/2026) Pannotia adalah nama yang diberikan untuk sebuah superkontinen hipotetis yang diperkirakan terbentuk sekitar 600 juta tahun lalu, jauh sebelum kemunculan Pangea.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

Nama tersebut berasal dari bahasa Yunani yang berarti 'semua tanah bagian selatan', menandakan bahwa daratan terbesar pada waktu itu terpusat di belahan selatan Bumi.

Pannotia ini juga dikenal dengan sebutan lain seperti Great Gondwanaland atau superkontinen Vendian, dan diperkirakan terbentuk saat daratan bergabung karena pergerakan lempeng tektonik di akhir masa Precambrian.

Akan tetapi, tidak semua ilmuwan sepakat bahwa Pannotia benar-benar pernah ada sebagai satu daratan raksasa utuh. Hal itu terkait bukti geologisnya tidak sekuat bukti keberadaan Pangea.

Benua super putatif berpusat di Kutub Selatan. Jcwf di nl.wikipedia, Domain publik, melalui Wikimedia CommonsBenua super dianggap berpusat di Kutub Selatan. Foto: Jcwf di nl.wikipedia, Domain publik, melalui Wikimedia Commons

Dalam studi yang dipublikasikan oleh para peneliti dari Yale, sejumlah ahli geologi bahkan 'mengadili' keberadaan Pannotia. Sebagian menyatakan bukti geologis mendukung penggabungan benua besar itu, tetapi tidak sedikit pula yang berargumen bahwa Pannotia mungkin tidak pernah sepenuhnya tersusun sebelum mulai terfragmentasi oleh pergerakan tektonik.

"Ada argumen yang mendukung maupun menentang keberadaan superbenua ini dan dalam banyak penelitian, keberadaannya diakui," catat makalah tersebut.

"Namun, dalam semakin banyak penelitian terbaru, Pannotia diperdebatkan, dikesampingkan, atau diabaikan," tulis peneliti.

Kalau Pannotia memang terbentuk di Bumi, itu berarti siklus pembentukan dan perpisahan benua besar (supercontinent cycle) telah berlangsung berulang kali jauh sebelum Pangea muncul. Ini sesuai dengan gagasan bahwa daratan besar terbentuk, hancur, dan terbentuk kembali seiring waktu melalui proses tektonik global.

Nah, bila terbentuk, Pannotia kemudian pecah lagi dan fragmennya akhirnya bergerak membentuk daratan yang lebih dikenal di masa berikutnya, termasuk blok-blok yang kemudian menjadi bagian dari Pangea.

Debat soal Pannotia bukan sekadar teka-teki nama dalam buku geologi kuno. Memahami ada atau tidaknya superkontinen ini membantu ilmuwan mengurai sejarah panjang Bumi, termasuk bagaimana iklim purba, laut dan daratan berubah serta bagaimana kehidupan awal di planet ini berevolusi jauh sebelum dinosaurus atau mamalia muncul.




(agt/fay)







Hide Ads