Menurut Presdir XL Hasnul Suhaimi, hal tersebut dipicu oleh kenaikan jumlah pelanggan sebesar 62% menjadi 15,5 juta. "Produk baru XL yang menawarkan tarif transparan dan lebih terjangkau mendapatkan sambutan positif dari pasar," ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima detikINET, Jumat (22/2/2008).
Meski mengalami lonjakan dalam hal pemakaian, namun sayangnya XL tak mampu menahan turunnya laba bersihnya tahun lalu. Laba bersih XL turun dari Rp 336 miliar di akhir 2006 menjadi Rp 251 miliar di penghujung 2007.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Seandainya XL tidak mencatat withholding taxes dan rugi kurs tersebut, maka laba bersih XL pada tahun 2007 akan mencapai Rp 721 miliar, atau naik 115% dari laba bersih yang disesuaikan untuk tahun 2006 yang berjumlah Rp 336 miliar," urai Hasnul.
Namun di sisi lain, XL berhasil membukukan kinerja yang diklaim melampaui ekspektasi di 2007, dengan mencatat kenaikan gross revenue net of discount sebesar 38% menjadi Rp 8 triliun dan kenaikan EBITDA sebesar 37% menjadi Rp 3,5 triliun. Sementara pendapatan XL di 2006 sebesar 4,681 triliun.
XL mengaku pencapaian tersebut berhasil diraih melalui sejumlah strategi yang diterapkan di sepanjang tahun 2007. Di 2007, XL mengubah strategi distribusi dari sistem distribusi langsung (direct method) menjadi hybrid method.
Sementara, dalam upayanya untuk meningkatkan kualitas jaringan pada 2007, XL telah membelanjakan Rp 7,1 triliun dari belanja modal (capital expenditure) untuk perluasan jangkauan dan peningkatan kapasitas dengan membangun infrastruktur sebanyak 3.897 BTS, termasuk 394 Node B untuk layanan 3G.
"Sehingga di akhir 2007, jumlah BTS XL untuk layanan 2G dan 3G adalah 11.157 BTS. Dengan demikian, kami telah berhasil menjangkau lebih dari 90% populasi di Indonesia," tandas Hasnul.
Β (rou/dwn)