Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
'Anggaran Belanja Tinggi Hambat Laba Operator'

'Anggaran Belanja Tinggi Hambat Laba Operator'


- detikInet

Jakarta - Pasar telekomunikasi di Indonesia dinilai masih sangat menjanjikan pertumbuhannya. Namun, naiknya anggaran belanja operator karena tuntutan pengadopsian teknologi baru jadi kendala menurunnya laba. Apa kiat menghadapinya?"Solusinya, operator bisa mencoba sistim outsourcing (alihdaya -red). Setelah itu, operator tinggal fokus menyiapkan layanan baru yang terbaik bagi pelanggannya," ujar Direktur Penjualan Layanan Nokia Networks untuk Asia Pasifik, Ashwini Bakshi, dalam keterangan tertulisnya, Rabu (22/11/2006).Seperti dipaparkan Bakshi di Jakarta sebelumnya, hampir seluruh operator meningkatkan anggaran belanjanya (capital expenditure/capex) sekitar 20% tiap tahunnya dan sekitar 15-25% dari total anggaran tersebut dialokasikan untuk sektor jaringan. Hal itu dilakukan demi meningkatkan cakupan jaringan, kualitas akses, serta demi menjaga persaingan dengan operator lainnya.Tercatat, di 2006 ini saja, operator telekomunikasi di kawasan Asia Pasific bila dijumlah telah menghabiskan anggaran belanja sekitar US$ 170 juta. Namun sayangnya, lanjut Bakshi, peningkatan belanja modal tak diikuti oleh pemasukan dari sektor pelanggan. Rata-rata pendapatan per pelanggan (average revenue per user/ARPU) turun. Namun sayangnya tak disebutkan angka penurunannya.Melihat kondisi tersebut, Nokia yang telah makan asam garam selama 20 tahun di bisnis telekomunikasi bergerak, menawarkan layanan business solution portfolio yang memberikan para operator, khususnya di Indonesia, cara-cara terbaik untuk meningkatkan efisiensi mereka."Di Asia Pasifik, China, India dan Indonesia memiliki pasar yang kuat di sektor komunikasi bergerak dan Nokia Networks memiliki layanan untuk membantu para operator di kawasan ini memecahkan masalah yang mereka hadapi," kata Bakshi.Bakshi mengatakan, Nokia Managed Services menawarkan sistim alihdaya untuk membantu para operator telekomunikasi mencapai efisiensi di masing-masing perusahaannya. Selain itu, klaim dia, keunggulan lainnya mencakup operasi di lapangan, ketersediaan jaringan, mobility hosting and performa jaringan.Mobility hosting merupakan bagian dari Managed Services (layanan terkelola). Bila pada Managed Services yang konvensional, operator masih memerlukan Nokia untuk mengelola jaringannya. Namun, untuk Mobility Hosting, Nokia melakukan investasi untuk platformnya guna menjalankan layanan bergerak atas nama pelanggan atau operator tersebut. Menurut dia, layanan-layanan tersebut memberikan kontribusi sekitar 30 persen bagi pendapatan Nokia Networks dan angkanya meningkat."Nokia Networks sejauh ini telah menandatangani 60 kontrak kerjasama dengan 43 operator di 32 negara termasuk enam kontrak dengan operator telekomunikasi di Indonesia antara lain Hutchison Telecom Indonesia, Telkomsel dan Indosat," ujar Bakshi tanpa mau menyebut nilai kontrak tersebut dan berapa modal yang telah ditanam di Indonesia."Kami telah membangun sebuah pusat pelatihan bagi insinyur Indonesia di Bandung dan lebih 400 orang bekerja di Nokia Networks," ujar Peter C. Froitzheim, Country Service Director Nokia Networks Indonesia.Nokia terpilih untuk memasok dan mengelola solusi platform pengiriman layanan GSM/WCDMA 3G milik Hutchison. Platform terdiri atas portal mobil untuk data dan suara dan dukungan layanan bernilai tambah seperti games, berita, streamlining video dan musik. Dengan Telkomsel, Nokia telah menandatangani kontrak jaringan utama dan radio HSPA/WCDMA 3G dan mengelola kontrak layanan untuk mendukung Telkomsel dalam memperkuat bisnisnya dan memperkenalkan layanan 3G seperti streamlining video ke para pelanggannya. (rou) (rouzni/rouzni)







Hide Ads