Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Catatan Perjalanan ke Amerika (2)
Kabayan Saba San Diego, Aya Bonbin Euy...
Catatan Perjalanan ke Amerika (2)

Kabayan Saba San Diego, Aya Bonbin Euy...


- detikInet

Jakarta - Pengantar:Tulisan ini adalah catatan Michael Sunggiardi, aktifis dan peneliti Internet wireless Indonesia, ketika ke Amerika minggu lalu dalam rangka mengikuti serangkaian acara forum wireless. Catatan Michael akan disampaikan dalam dua seri. Tulisan ini adalah seri kedua, dengan judul asli "Si Kabayan Saba Kota". Berikut catatannya:(Kisah sebelumnya: Si "Kabayan" mengunjungi kota judi kenamaan, Las Vegas. Tujuannya adalah untuk menghadiri Broadband Wireless World Forum 2006. Dia menginap di hotel The Hooters yang terkenal dengan restoran berpelayan nu geulis pisan euy...)... Kalau perginya pakai pesawat terbang, kali ini saya akan menyewa mobil dengan teknologi yang juga canggih, melalui Internet membooking mobil dan tiba ditempat penyewaannya langsung masuk ke perangkat komputer lagi, tanpa perlu dilayani oleh orang, dan langsung ke tempat parkir untuk memilih mobil sesukanya, tanpa diantar oleh satu orangpun.Pengalaman mengunjungi pantai barat Amerika dan berkeliling di UCSD San Diego dan La Sierra University membuat banyak inspirasi terhadap pengembangan teknologi yang sebetulnya bisa kita lakukan di Indonesia.La Sierra University terletak dikaki bukit daerah Riverside, dekat kota besar San Bernardino yang mirip kota kelahiran saya, Bogor, terdiri dari bukit-bukit dan banyak pohon-pohon-nya, persis seperti perumahan di Cipanas dengan kombinasi pohon-pohon rindang dan bunga-bungaan, sehingga nyaman sekali berada disana.Team XRF memasang wireless mesh disana sejak tahun lalu, berbasis tujuh radio dengan menggunakan antena yang mampu menghindari interferensi dari ke tujuh radionya.Sinyal radio 802.11 tipe a, b atau g yang dipancarkan dari bukit La Sierra dapat ditangkap di kota, tepatnya di daerah pertokoan La Sierra, dimana saya mencoba di tempat parkir yang menghadap bukit La Sierra University. Mereka menggunakan amplifier 1 Watt untuk memperkuat sinyalnya, karena selain melayani ribuan mahasiswa di lingkungan La Sierra University, proyek ini juga memberikan layanan ke penduduk sekitar kampusnya.Percobaan ini dilakukan di La Sierra University, karena kebetulan dekan fakultas bisnisnya adalah salah satu pemegang saham XRF dan fakultas teknik komputer-nya diberi kesempatan melakukan percobaan terhadap teknologi ada.Sayangnya saya berkunjung pada hari Jum'at siang, sehingga tidak bisa menikmati keramaian mahasiswa bersimpang siur disana, kebanyakan mahasiswanya orang Amerika Latin, Vietnam dan Cina.Buang Ratusan KomputerDari La Sierra, saya naik mobil ke San Diego yang terkenal sebagai "kota kebun binatang" oleh sebagian besar orang Indonesia yang berkesempatan jalan-jalan ikut tur ke Amerika.San Diego adalah kota dimana dilahirkan perusahaan besar dunia, Qualcomm yang merupakan satu-satunya pemasok chip telepon CDMA yang dikembangkan oleh Dr. Irwin Jacobs yang sekolah di UCSD (University of California at San Diego). Selain membuat chip CDMA, Qualcomm juga dikenal sebagai pembuat program e-mail client Eudora yang saya pakai sejak 1996 dan membangun stadium olah raga besar yang diberi nama Qualcomm juga.Berkeliling UCSD di daerah La Jolla lumayan melelahkan, karena luasnya bukan main, sekitar 5.000 m2, dikelilingi oleh pohon-pohon yang mirip hutan, tetapi kelihatan sangat terawat sekali. Padahal saya belum berkesempatan untuk mengunjungi kampus lain di daerah Hillcrest.Selain Irwin Jacobs dengan Qualcomm-nya, UCSD juga terkenal karena terdapat Supercomputer dan penelitian Biokimia serta penanggulangan gempa yang sukses.Jumlah komputer di UCSD, sama seperti kursi atau bangku, jumlahnya ribuan, dan bahkan saya melihat sendiri ratusan komputer Sun Microsystem tergeletak siap untuk dibuang karena peremajaan mulai dari ruangan sampai gedungnya.UCSD termasuk universitas kaya, karena adanya Irwin Jacobs dan pengembangan biokimia, sehingga gedungnya sangat megah dan selalu bertambah setiap tahunnya. Setiap kali saya ke negara maju, melihat sarana pendidikan disana, rasanya merinding dari kepala sampai pundak, koq kita tidak dapat melakukan hal yang sama ?Perjalanan juga sampai pada satu perusahaan piranti lunak yang lumayan besar di Amerika, yaitu Intuit, yang memproduksi program akunting dan keuangan. Intuit terletak juga di San Diego, dan hebatnya lagi, ada dua orang Indonesia yang bekerja disana sejak Intuit dibangun, salah satu berasal dari Bandung.Dalam kesempatan mampir di San Diego, saya diajak kawan-kawan dari Intuit untuk menonton pertandingan base ball di stadion Petco, antara Padres dan LA Dodgers. Suasana meriah karena sebagian besar membawa keluarganya untuk menonton, lampu yang sangat terang sehingga nyaris seperti siang hari, dengan sound system yang menggetarkan, membuat kita terbawa emosi dalam stadion yang dipadati penonton lebih dari 30.000 orang.30.000 penonton yang sangat padat dan ramai tersebut masih sangat tertib dan tidak ada kekacauan seperti menonton pertandingan liga sepak bola di Indonesia, yang kebanyakan berakhir dengan kerusuhan dan pembakaran mobil atau merusak sarana umum.Milik Tommy Soeharto?Setelah menginap satu malam di San Diego, perjalanan dilanjutkan lagi untuk kembali ke Las Vegas, di kota judi ini, saya akan menghadiri Interop 2006, pameran infrastruktur dan peralatan network terbesar di Amerika.Pameran dan seminar Interop 2006, yaitu arena unjuk gigi perangkat network dan infrastruktur terbesar di Amerika. Selain diadakan di Las Vegas, Interop juga diselenggarakan di New York, Tokyo dan Moscow.Interop 2006 Las Vegas diselenggarakan di Mandalay Bay Hotel, hotel bintang lima di Las Vegas yang "berbau" Indonesia, karena banyak ukiran-ukiran Bali menjadi ornamen hotel, dan konon hotel tersebut miliknya Tommy Soeharto.Untuk mengikuti seminar dan diskusi di Interop 2006, peserta harus bayar antara USD 900 sampai USD 3.000, dan untuk masuk ke ruang pameran dikenakan biaya USD 50.Ada sekitar 400 peserta pameran yang terdiri dari empat katagori, keamanan jaringan komputer, VoIP, peranti jaringan kabel dan wireless. Di dalam pameran Interop ini, disediakan tempat untuk berdiskusi secara pribadi untuk membangun sistem yang diinginkan, mereka sebut sebagai Interop Labs dan Interop Net dimana mereka menguji coba semua peranti yang disediakan oleh sponsor.Interop Labs lebih ke aplikasi murah meriah seperti yang sering dilakukan di Indonesia, seperti membuat sistem jaringan komputer berbasis Linux, menggunakan Asterisk dan mengkotak-katik hardware sehingga menjadi optimal, sementara Interop Net adalah suatu konsep untuk membuktikan ke semua penonton, bahwa teknologi yang dibuat oleh perusahaan-perusahaan pemasok peranti keras dapat berjalan dengan baik.Dari GarasiInterop Net berawal dari garasi, dimana beberapa ahli teknik jaringan komputer berkumpul untuk mendiskusikan peranti-peranti baru, kemudian semuanya mencari sponsor untuk meminjam peranti dan sekaligus mencobanya. Ada 24 vendor peranti keras yang meminjamkan perantinya untuk dipakai selama pameran, dan ribuan meter kabel dan fibre optic digelar di ruang pameran yang kira-kira tiga kali lipat JHCC di Jakarta.Teknologi wireless juga dipertontonkan di dalam ruangan yang sangat besar tersebut, dengan jumlah access point yang sampai dua ratusan unit, dan semuanya dikendalikan oleh satu merk digabung dengan teknologi fibre optic, kabel 10Gbps dan sudah tentu kabel 100Mbps. Dengan leluasa, apabila kita membawa notebook, kita dapat mengakses Internet dengan kecepatan rata-rata sampai 300Kbps, dan semuanya diberikan cuma-cuma oleh panitia.Orang Amerika memang terkenal jor-jor-an, dalam pameran besar tersebut, mereka membagikan berbagai suvenir, mulai dari bolpen, tas, penggaris, gelas, kaos sampai kalkulator atau lainnya, dan semuanya membuat pengunjung menjadi bernapsu untuk mendapatkan suvenir, dan bahkan saya melihat ada pengunjung pameran yang membawa satu boks sebesar kulkas kecil yang isinya semua suvenir pameran.Teknologi yang dipertontonkan di Interop 2006 adalah teknologi infrastruktur, baik berbasis kabel yang sekarang sudah dapat mencapai kecepatan 10Gbps, maupun wireless dengan berbagai kombinasi dan kemajuan yang mampu menyalurkan bandwidth sampai ratusan Mbps. Perusahaan besar seperti Siemens, Cisco, Juniper Network dan lainnya mempunyai booth yang besar dan megah, sementara perusahaan yang tergolong "start up" juga diberi satu tempat khusus.Menonton teknologi tinggi yang ditawarkan Interop 2006, kita betul-betul merasa iri, karena Internet dengan bandwidth giga bit per second sudah merupakan hal biasa di Amerika, sedang di Indonesia, mendapatkan bandwidth 128Kbps saja sudah merupakan hal yang tidak mudah.Sesumbar KeamananSelain itu, isu keamanan jaringan menjadi yang paling utama di Amerika, karena sebagian besar pemakaian komputer dan Internet sudah dengan bandwidth yang gila-gila-an besarnya. Lebih dari seratus peserta dari empat ratus peserta pameran, menawarkan isu keamanan jaringan, mencegah spam dan mencegah virus, dan kita betul-betul dibuat bingung dengan tawaran dari setiap perusahaan yang semuanya sesumbar yang terbaik dikelasnya.Sepertinya, Indonesia akan menjadi seperti Amerika, setelah seluruh infrastruktur menjadi baik dan kebutuhan akan bandwidth besar sudah terpenuhi dengan baik.Di hari kedua pameran yang diselingi dengan liburan hari buruh, akhirnya saya kembali ke tanah air, dan balik dari melihat teknologi tinggi di negara Paman Sam, saya merasa seperti si Kabayan baru pernah ke kota, tetapi kenyataannya, semua teknologi sudah di jalankan disini dalam skala yang relatif lebih sederhana dan lebih praktis.Impian dan kenyataan memang selalu tidak sinkron, dan usaha manusia-lah yang membuat impian menjadi satu kenyataan.Bogor, 8 Mei 2006Michael Sunggiardi(Catatan Redaksi:Bagi pemberi komentar, mohon tidak mengisi kolom nama dengan kata/kalimat yang tak lazim sebagai nama orang. Nama samaran diperbolehkan. Penggisian nama dengan nama milik orang lain (public figure), alamat situs, merek, nama institusi tertentu dan/atau cenderung vulgar/ofensif/SARA, tidak diperkenankan.). (donnybu/)




Hide Ads