Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Ujicoba Wimax di Indonesia Awal 2006

Ujicoba Wimax di Indonesia Awal 2006


- detikInet

Jakarta - Wimax, teknologi nirkabel broadband, akan diujicobakan di Indonesia pada awal 2006. Operator sudah digandeng, tapi izin dari pemerintah belum turun. Ujicoba itu akan digelar Intel, produsen prosesor dan microchip yang merupakan pendukung utama teknologi nirkabel itu. Pihak Intel akan menggandeng operator telekomunikasi di Indonesia untuk ujicoba tersebut. Demikian disampaikan Budi Wahyu Jati, Country Manager Intel, kepada wartawan di Hotel InterContinental, Jakarta, Senin (14/11/2005). Namun Budi masih enggan menyebut rekanan Intel untuk ujicoba tersebut. Ujicoba akan dilakukan pada kuartal pertama 2006. "Persiapan kami saat ini sudah mencapai sekitar 60-70 persen," Budi menambahkan.Sejauh ini beberapa persiapan yang dilakukan Intel mencakup masalah pemasangan dan konfigurasi peralatan. Namun Intel belum bisa mengkonfirmasikan pita frekuensi mana yang akan dipakai untuk uji coba tersebut. "Saat ini kami sedang menunggu izin frekuensi untuk Wimax turun dari pemerintah. Kemungkinan kita akan nebeng di 2,5 Ghz, 3,5 GHz, atau 5,8 Ghz," tutur Budi.Wimax memungkinkan koneksi nirkabel yang lebih jauh dari teknologi internet nirkabel seperti WiFi. Wimax diklaim mampu menghasilkan koneksi linier hingga 50 kilometer.Kemampuan mengalirkan data pada jaringan ini juga disebut-sebut lebih besar. Secara teori Wimax bisa mengalirkan data hingga 70 megabit per detik. Pemanasan di AcehSebelum ujicoba ini, di Indonesia Intel boleh dibilang telah melakukan pemanasan untuk menggelar teknologi Wimax. Hal itu dilakukan di wilayah korban bencana alam Tsunami di Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam (Aceh).Di Aceh, Intel menggunakan frekuensi 5,8 GHz dengan metode koneksi last mile dari tiga Base Transceiver Station (BTS) berdayajangkau hingga 1000 kilometer untuk mendukung upaya pemulihan pasca tsunami di NAD. Wimax di Aceh secara resmi disebut sebagai pre-Wimax.Mengenai infrastruktur Wimax di Aceh, Budi menegaskan Intel tidak berencana untuk mengkomersialkannya karena standar yang digunakan belum matang serta tidak mendukung mobilitas penuh. Menurut Intel, lebih dari 50 badan pemerintah dan LSM menggunakan infrastruktur komunikasi nirkabel itu untuk membantu membangun kembali Aceh. "Sebelum dibangun teknologi pita lebar di Aceh, organisasi-organisasi kemanusiaan internasional menghadapi tantangan sulitnya berbagi data dan berkoordinasi," ujar Stacy J. Smith, VP dan CIO Intel Corporation. Beberapa organsiasi yang menggunakan jaringan ini termasuk Mercy Corps dan Yayasan Air Putih yang diprakarsai aktivis teknologi informasi Indonesia. Selain infrastruktur pre-Wimax itu, Intel juga menyumbangkan ratusan komputer jinjing (notebook) dan desktop. Beberapa server pun diberikan Intel untuk mendukung infrastruktur tersebut. (wicak/)







Hide Ads