Selasa, 16 Apr 2019 18:17 WIB

Fake BTS Disinyalir Ikut Picu Maraknya SMS Palsu Berisi Hoax

Agus Tri Haryanto - detikInet
Ilustrasi SMS penipuan. Foto: detikINET/Agus Tri Haryanto Ilustrasi SMS penipuan. Foto: detikINET/Agus Tri Haryanto
Jakarta - Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) menemukan adanya penggunaan perangkat ilegal yang dimanfaatkan untuk menyebarkan SMS Palsu ke pelanggan tanpa izin komersial. Regulator pun melarang keberadaan alat tersebut diperjualbelikan.

Perangkat ini mampu berfungsi sebagai Base Transceiver Station (BTS) atau fake BTS untuk menyebarluaskan konten negatif, mulai dari hoax, berita palsu, provokasi, ujaran kebencian, dan pelanggaran konten informasi negatif lain dalam bentuk SMS. Lewat fake BTS itulah yang diduga jadi salah satu pemicu maraknya SMS palsu.

"Kami minta semua pihak terkait untuk berhenti menggunakan perangkat yang tanpa sertifikat Kominfo semacam itu," tegas Ketua BRTI Ismail.




Ismail yang juga Dirjen SDPPI Kementerian Kominfo mengatakan praktik tersebut melanggar Undang-Undang Telekomunikasi dan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Itu artinya, yang menjual dan menggunakan perangkat tersebut dapat dikenai sanksi sesuai hukum yang berlaku.

BRTI juga telah meminta para vendor perangkat dan toko-toko untuk tidak lagi melakukan penjualan terhadap perangkat SMS Blaster/Mobile Blaster/Fake BTS yang tidak sesuai ketentuan tersebut. Adapun kepada platform penyedia e-Commerce dan toko online diminta untuk menutup iklan yang menawarkan perangkat Fake BTS.

Tim dari Ditjen SDPPI bersama Balai Monitor Frekuensi Radio dan Korwas PPNS Kominfo terus melakukan monitoring penjualan SMS Blaster/Mobile Blaster/Fake BTS ke toko-toko offline berdasarkan informasi dari operator seluler maupun penelusuran di dunia maya.




Selain terkait dengan Fake BTS, Kominfo memandang penyebaran konten negatif melalui SMS juga ditengarai terkait dengan para penyedia konten SMS yang melakukan pengiriman SMS dalam jumlah besar (blasting), namun menutupi identitas pengirim (masking). Hal semacam ini dapat dilakukan oleh penyedia konten SMS yang memiliki kerja sama dengan operator seluler.

Oleh karena itu, BRTI mengingatkan operator seluler untuk melakukan peran pengawasan dan pengendalian dengan cara memberi penegasan dan mengingatkan para mitranya agar tidak menyalahgunakan tujuan kerja sama tersebut.


(agt/krs)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed