Selasa, 28 Agu 2018 10:30 WIB

Mengenal Signal, Aplikasi Anti Sadap Terdakwa Suap Bakamla

Fino Yurio Kristo - detikInet
Aplikasi Signal. Foto: istimewa Aplikasi Signal. Foto: istimewa
Jakarta - Terdakwa kasus suap proyek di Badan Keamanan Laut (Bakamla), Fayakhun Andriadi, diketahui menggunakan aplikasi messaging yang diklaim anti sadap di ponselnya yaitu Signal yang ternyata juga banyak digunakan anggota polisi hingga anggota DPR. Mari mengenal lebih jauh soal Signal ini.

Signal yang diluncurkan pertama kali pada 29 Juli 2014, adalah aplikasi komunikasi terenkripsi atau dengan penyandian untuk Android dan iOS. Ia dikembangkan oleh developer bernama Open Whisper Systems.

Kelebihan dari Signal memang adalah keamanannya karena terenskripsi serta diklaim anti sadap. Teknologinya yang bernama The Signal Protocol, ternyata juga digunakan di WhatsApp, Facebook Messenger, Skype dan lainnya.



Selain itu, Signal juga sama sekali tidak disusupi iklan. "Tidak ada iklan, tidak ada pengintaian. Hanya teknologi terbuka untuk pengalaman messaging yang cepat, sederhana dan aman," sebut Whisper Systems di websitenya.

Dibanding WhatsApp bahkan Telegram, popularitas Signal bisa dibilang masih di bawah. Namun namanya mulai banyak diperbincangkan setelah Mei lalu, salah satu pendiri WhatsApp Brian Acton bergabung di Signal.

Tak sekadar bergabung, Acton akan mengguyur Signal dengan investasi senilai USD 50 juta atau di kisaran Rp 682 miliar. Pendanaan itu akan digunakan untuk mengembangkan Signal, seperti dikatakan co founder Signal, Moxie Marlinspike.

"Dengan pendanaan awal USD 50 juta ini, sekarang kami bisa meningkatkan jumlah tim kami, kapasitas kami dan ambisi kami," sebut Moxie yang dikutip detikINET dari V3.

"Mungkin yang paling signifikan adalah kedatangan Brian berarti kehadiran engineer yang berbakat luar biasa dan visioner dengan pengalaman dekade membangun produk sukses," tandasnya.



Ya, tidak hanya menyumbang dana, Acton juga akan menjadi Executive Chairman yayasan Signal Foundation. Misi mereka adalah menyediakan komunikasi privat Signal ke sebanyak mungkin orang.

"Ini hanyalah awal. Ada banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk membuat mimpi kami jadi kenyataan dan kami akan terus bertanya pada kolega, komunitas dan diri kami sendiri apakah ada cara lebih efektif melayani publik," kata Brian.

"Dalam waktu dekat, kami fokus menambah tim dan mengembangkan Signal Messenger," pungkas pria yang mendirikan WhatsApp bersama koleganya, Jan Koum ini. (fyk/rou)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed