Jumat, 29 Jun 2018 11:11 WIB

Begini Cara Pelaku Teror IT KPU Samarkan Aksinya

Agus Tri Haryanto - detikInet
Foto: Screenshot Harry Sufehmi Foto: Screenshot Harry Sufehmi
Jakarta - Tim IT KPU diteror nomor misterius dengan ratusan misscall. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, siapa pelakunya dan nomor mana yang digunakan?

Pengamat telekomunikasi mengatakan peneror tim IT KPU dengan nomor awalan +100 memanfaatkan IP-based Voice application atau telepon berbasis internet.

Teror dengan nomor tak biasa tersebut diderita konsultan IT KPU Harry Sufehmi melalui misscall hingga ratusan kali. Selain serangan bombardir misscall, Harry juga mendapatkan upaya peretasan akun Telegram dan WhatsApp miliknya. Teror ini tak hanya dirasakan Harry, dikatakannya hampir tim IT KPU lainnya mengalami kejadian serupa.

Ridwan Effendi, pengamat telekomunikasi dari ITB, mengungkapkan panggilan itu bukan berasal dari nomor PSTN, atau mobile pada umumnya, melainkan dari telepon berbasis internet.

"Tapi dari IP-based Voice application. Kode 1 di depan bisa jadi servernya di Amerika Serikat, tapi bisa juga di tempat lain dengan menggunakan masking," ungkapnya saat dihubungi detikINET, Jumat (29/6/2018).

Lebih lanjut, Ridwan menjelaskan, +1 adalah kode dari USA, tapi tidak ada kode area 00 di USA. Dengan demikian, +100 pasti bukan berasal dari PSTN, dan bukan dari telepon seluler karena kode areanya adalah 8.

"Jadi kemungkinan besar berasal dari IP based," tegas mantan komisioner Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) tersebut.

Ridwan juga mengatakan bahwa 00 setelah +1 adalah merupakan Special Number dari nomor panggilan yang belum dialokasikan, sehingga kemungkinan besarnya dari IP-based voice application.

"Peneleponnya belum tentu di Amerika karena penggunanya banyak dari seluruh dunia atau bahkan dengan teknik IP-masking, servernya bahkan bisa jadi ada di negara lain atau bahkan di Indonesia," tuturnya.

Dalam kesempatan terpisah, Direktur Eksekutif Indonesia ICT Intitute Heri Sutadi pun mengungkapkan bahwa teror yang menerpa tim IT KPU sudah pasti bukan hanya bisa terjadi dalam sebuah film, tetapi sesuatu yang nyata.

"Saya sendiri belum menemukan +100 itu berasal dari kode negara mana. Tetapi bisa saja itu menggunakan telepon +1 yang berasal dari Amerika, kemudian 00 bisa merupakan kode daerahnya," kata Heri saat dihubungi detikINET, Kamis (28/6/2018).

Namun, Heru juga menyebutkan ada kemungkinan lain bahwa nomor tersebut hasil dari teknologi masking, yakni dapat menyesuaikan nomor sesuai keinginan.

"Biasanya kode telepon negara itu macam-macam di bagian depan sebagai kode internasional. Kode itu kan bisa dibuat kadang-kadang, tidak mencerminkan aslinya. Seperti masking, seolah-olah dari sana," pungkasnya. (agt/ash)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed