BERITA TERBARU
Senin, 07 Mei 2018 19:34 WIB

Indosat Ambil Sisi Positif Registrasi SIM Card

Achmad Rouzni Noor II - detikInet
Foto: Rachman Haryanto/detikINET Foto: Rachman Haryanto/detikINET
Jakarta - Indosat Ooredoo mencoba ambil sisi positif dari kebijakan registrasi kartu SIM prabayar, khususnya tentang peluang pasar bisnis baru dalam jangka panjang.

"Kami coba melihat dari sisi positif. Perbaikan ini utamanya adalah basis pelanggan yang lebih loyal, serta tingkat churn yang lebih rendah, yang pada akhirnya memberikan margin yang lebih besar di masa mendatang," ujar Deva Rachman, Group Head Corporate Communications Indosat Ooredoo di Jakarta, Senin (7/5/2018).

Deva menjelaskan, perseroan berupaya untuk mematuhi ketentuan dan peraturan yang berlaku. Aturan baru registrasi kartu perdana ini diterapkan secara bertahap sampai lengkap di bulan Mei 2018.

Salah satu strategi dalam upaya meraih imbas positif jangka panjang dari regulasi kartu prabayar, Indosat akan meningkatkan kualitas layanan. Sejauh ini, Indosat telah membangun 6.201 BTS tambahan dibandingkan tahun sebelumnya.

Sehingga, total BTS sampai kuartal 1 2018 sebanyak 64.375 BTS. Dari jumlah tersebut, 58% di antaranya merupakan BTS 4G untuk menunjang pertumbuhan penggunaan data yang sangat tinggi.



Dalam lima bulan terakhir, Indosat mengaku fokus pada proses transformasi bisnis dalam rangka pengembangan jaringan. Tujuan dari pengembangan jaringan ini untuk menyediakan jaringan kualitas Jawa untuk luar Jawa.

Strategi itu diharapkan akan memberikan kontribusi positif pada pengembangan usaha Indosat dalam dua triwulan ke depan. Peningkatan cakupan 4G ini juga akan meningkatkan coverage wilayah yang tercakup sebelumnya, yaitu meliputi 227 kota di seluruh Indonesia.

Berimbas pada Bisnis Seluler

Dalam jangka pendek, aturan baru dalam registrasi kartu perdana ini menunjukkan tekanan berat pada performansi top line Indosat Ooredoo. Perusahaan mencatat pendapatan Rp 5,7 triliun di triwulan I 2018, turun 21,9% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Penurunan ini disebabkan penurunan 27% dalam pendapatan selular, dari Rp 6 triliun di triwulan I 2017 menjadi Rp 4,4 triliun di triwulan I 2018, yang utamanya akibat kehilangan pendapatan dari pelanggan yang tidak mematuhi aturan serta akibat adanya perubahan dalam strategi GTM dari 'push' menjadi 'pull'.

Penurunan telepon dan SMS yang merupakan tantangan industri, juga memberikan dampak negatif pada pendapatan. Sementara operational expenditure dapat tetap terjaga melalui kendali biaya yang ketat dan efisiensi grup, total biaya turun sebesar 10,7% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.



Namun akibat penurunan pendapatan, marjin EBITDA mengalami penurunan menjadi sebesar 34,1% dalam triwulan I 2018 atau menjadi Rp 1,9 triliun dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Total utang dan pinjaman juga turun sebesar 2,0% atau sebesar Rp386,2 miliar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, dimana tingkat suku bunga mengalami peningkatan sekitar 0,03% poin.

Porsi utang dalam mata uang USD turun sebesar 81,0% dari USD158,9 juta (mewakili 11,2% dari total utang) di triwulan I 2017 menjadi USD30,2 juta (mewakili 2,2% dari total utang) di triwulan I 2018, sehingga Indosat telah berhasil meminimalisir dampak fluktuasi nilai tukar USD/IDR.

Sementara jumlah pelanggan selular pada triwulan I 2018 mencapai 96,2 juta pelanggan, meningkat sebesar 0,6 juta pelanggan dibandingkan dengan triwulan I 2017. (rou/rou)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed