"Kami targetkan di September ini, model kontrak kami semua pertimbangkan, apakah In Orbit Delivery (IOD) atau On Ground Delivery (OGD). Kami sudah meminta informasi kepada semua pabrikan," ujar President Director Unisat, Widodo Mardijono di Mandarin Oriental, Jakarta, Selasa, (28/2/2017).
Unisat akan meluncurkan satelit dengan klasifikasi High Throughput Satellite (HTS). Dikatakan Widodo, investasi HTS itu mahal, namun seiring dengan perkembangan, maka harga dimungkinkan jadi terjangkau.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut, pendanaan itu bisa didapatkan dari loan dan equity financing, di mana keduanya tengah dikaji oleh Unisat.
Sampai saat ini juga, Unisat belum menentukan di mana satelit HTS miliknya akan diluncurkan. Sebab, pemain satelit yang didirikan pada Januari 2016 ini masih dalam pembahasan untuk kedepannya.
Direncanakan, satelit Unisat akan mengangkut sekitar 38 transponder dan mengorbit di slot orbit 103 Bujur Timur (BT) yang dimiliki oleh Intersputnik yang berada di wilayah Padang dan Jambi.
Dalam menjalankan bisnis satelit ini, Unisat mengadopsi pola condosat, yang merupakan model bisnis dalam satu satelit terdapat beberapa pemilik transponder.
Dengan demikian, untuk meluncurkan satelit pola yang diadopsi adalah kolokasi slot orbit dengan Intersputnik dan Condosat dengan operator lainnya untuk transponder. (fyk/fyk)