Selasa, 21 Jun 2016 10:53 WIB

Peluncuran Satelit BRI

Mendapat Jatah Slot Satelit Susah, Jadi Harus Dijaga

Ardhi Suryadhi - detikInet
Foto: Peluncuran satelit BRIsat (foto: Ariane Space) Foto: Peluncuran satelit BRIsat (foto: Ariane Space)
Jakarta - Bisnis satelit tak cuma terkait perlunya sokongan dana super besar. Untuk mendapatkan jatah slot orbit sebagai tempat satelit tersebut mengangkasa pun bukan perkara gampang.

Pengamat telekomunikasi Heru Sutadi menegaskan, slot orbit itu sangat sulit didapatkan karena harus antri di International Telecommunication Union (ITU).

"Jadi kalau sudah dialokasikan harus dijaga slotnya dengan cara terus menempatkan satelit di orbitnya," ujar mantan anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) itu saat berbincang dengan detikINET.

Sebab jika umur satelit habis, harus segera diisi lagi. Atau kalau sudah meminta dan dialokasikan dikasih waktu dua tahun untuk meluncurkan satelit karena slot orbit terbatas.

Hal ini juga berlaku untuk satelit milik Bank Rakyat Indonesia (BRI) yang baru saja meluncur. Satelit BRIsat — nama satelit tersebut -- mengisi filing orbit satelit 150.5 BT dan akan menjangkau wilayah Indonesia, ASEAN, Asia Timur termasuk sebagian China, Laut Pasifik termasuk Hawaii dan Australia Barat.

Hak penggunaan slot orbit yang diisi BRIsat sendiri sebelumnya dipegang oleh indosat. Namun setelah Indosat lama tidak ada kejelasan soal pengisian satelit ini, pemerintah khawatir jika tidak segera diputuskan slot orbit tersebut bisa hilang dan akan dinilai merugikan kepentingan negara.

Di saat yang sama, BRI butuh transponder dan punya modal cukup untuk meluncurkan satelit. Sehingga akhirnya BRI yang ditunjuk mengelola slot orbit yang berada di atas langit Papua tersebut.

"Nah dalam kasus Indosat kan agak mengulur-ulur waktu dan terakhir mereka hanya bisa sistem kondosat, sehingga ketika BRI berminat dan ada uang langsung ditunjuk BRI," kata Heru.

Terlebih, pengelolaan satelit membutuhkan dana yang cukup menguras kantong. Sehingga jika kondisi keuangan perusahaan tidak mumpuni, sulit rasanya untuk mempertahankan slot orbit tersebut.

"Indosat sendiri kan memang lagi didera masalah keuangan (saat itu), dan tampaknya memang tidak berniat meluncurkan satelit. Satelit kan mahal dan dalam kondisi keuangan yang tidak baik akan membuat perusahaan juga terhuyung-huyung," pungkasnya.

Sebelumnya, Direktur utama BRI Asmawi Syam mengungkapkan pihaknya mengalokasikan dana USD 250 juta atau setara Rp 3,375 triliun untuk membeli satelit dari Space Systems/Loral, LLC (SSL) Palo Alto, California.

Angka tersebut terlihat besar namun tak seberapa bila dihitung dengan manfaat dan efisiensi biaya operasional BRI yang akan diperoleh setiap tahun.

Sepanjang tahun, BRI mengeluarkan sekitar Rp 500 miliar untuk menyewa 23 transponder. Kehadiran BRIsat, justru bisa menaikkan jumlah transponder yakni mencapai 45 unit. Tak hanya itu, BRI bisa memangkas biaya operasional jaringan telekomunikasi yang selama ini memakai pihak ketiga.

"Sampai sekarang masih sewa transponder Rp 500 miliar untuk 23 transponder. Punya satelit, kita bisa hemat 40% atau sekitar Rp 200 miliar," kata Asmawi.

BRIsat dikembangkan dengan menggelontorkan investasi USD 250 juta atau setara Rp 3,375 triliun. Satelit ini akan menggunakan dua frekuensi yaitu C band dan KU band.

Frekuensi C band yang akan digunakan untuk transaksi keuangan dan KU Band untuk komunikasi non keuangan. C band menggunakan frekuensi gelombang rendah sehingga tahan cuaca, sedangkan untuk KU band menggunakan gelombang tinggi sehingga mempunyai power yang kuat. (ash/fyk)
-

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed