Demikian ditegaskan menteri saat ditemui di sela acara 4G & Rich Content di Balai Kartini, Jakarta, Selasa (24/3/2015). Dalam kesempatan ini, Rudiantara mendapat pertanyaan soal isu penyadapan yang dihembuskan oleh Edward Snowden tentang kebocoran di SIM card buatan Gemalto.
Menurut menteri, operator seluler tak akan bertindak bodoh untuk membiarkan jaringannya disadap karena sudah mengikuti standar keamanan internasional ITU dan juga mematahui aturan sesuai UU Telekomunikasi No. 36/1999.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Snowden, mantan agen rahasia National Security Agency (NSA) sebelumnya menyebut Indonesia ikut jadi target penyadapan lewat kartu SIM buatan Gemalto. Tak hanya disadap oleh NSA dari Amerika Serikat, Government Communication Headquarter (GCHQ) dari Inggris juga ikut berperan.
Kedua badan intelijen ini bisa dikatakan menguping seluruh pembicaraan kita sekaligus memelototi isi SMS, email dan pesan lainnya melalui kartu buatan Gemalto yang berasal dari Amsterdam, Belanda.
Gemalto sendiri merupakan salah satu produsen kartu SIM terbesar di dunia dan menguasai sekitar 28,6% pangsa pasar. Perusahaan ini telah menjadi pemasok sejumlah operator seluler kenamaan seperti Verizon, AT&T, T-Mobile, Sprint, serta 450 operator seluler lainnya di 85 negara, termasuk Indonesia.
Kabar ini sontak ramai-ramai dibantah oleh operator seluler lokal seperti Telkomsel, Indosat, XL Axiata, Hutchison 3 Indonesia, dan Sampoerna Telekomunikasi Indonesia.
Pasalnya, mayoritas memang menggunakan Gemalto. Namun mereka memastikan tidak terjadi kebocoran data sekaligus telah melakukan investigasi internal yang sudah dilaporkan ke Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI).
Gemalto sendiri belum lama ini telah mengakui kemungkinan terjadinya penyadapan oleh NSA dan GCHQ itu. Menanggapi hal ini, Rudiantara sendiri menilai, kalau Gemalto tak bisa diandalkan untuk keamanan, sebaiknya jangan digunakan lagi.
"Kalau algoritmanya lepas, ya sudah, saya bisa apa. Enggak usah pakai Gemalto kalau begitu. Kalau memang sekuritinya sudah tidak terjamin, algoritmanya lepas, ya jangan dipakai lagilah," tegas menteri.
(rou/ash)