Menurut Rudiantara, salah satu prioritasnya adalah untuk meningkatkan bandwidth per kapita dari penduduk Indonesia.
Namun sebelum sampai tujuan itu, infrastruktur bandwidth di Tanah Air harus digenjot lebih cepat lagi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita kan benchmark, contoh di Indonesia itu gimana distribusinya. Kota-kota besar mungkin nggak terlalu masalah. Kita akses internet bisa kepada seluler, pake radio access network, bisa pakai kabel," lanjutnya.
Rudiantara menambahkan, internet via kabel itu selalu lebih bagus daripada radio. Hal ini terjadi di berbagai negara.
Itu di dalam negeri. Kemudian jika dibandingkan akses ke luar negeri. Data tahun 2013 menunjukkan Singapura per kapita bandwidth internasionalnya itu 200 kali dari Indonesia. Malaysia juga masih di atas Indonesia.
"Indonesia satu koma berapa, Singapura itu 200 lebih. Saya punya datanya. Saya bilang, makanya kapan kita maju? Ayo, kapan lagi," ungkap menteri jebolan profesional bisnis dari berbagai operator telekomunikasi ini.
"Cara mengitung bandwidth per kapita bagaimana, Pak Menteri?" tanya seorang pewarta ke Rudiantara.
"Total kapasitas. Misalnya, kabel laut yang ada di Singapura akses ke Amerika ke Eropa, totalnya berapa besar? Kemudian berapa penduduknya? Per kapita per penduduk," jawab menteri.
"Kita mana? Kita kan yang punya Indosat, Telkom, yang ada (link kabel) SEA-ME-WE 3 atau apa gitu. Nah, itu baru kabel laut. Satelit bisa kita pakai lagi. L-band juga kita bisa pakai lagi," tutupnya.
(ash/ash)