Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network
detikInet
Ada Gerhana Matahari Cincin Api 17 Februari, Ini yang Akan Terjadi

Ada Gerhana Matahari Cincin Api 17 Februari, Ini yang Akan Terjadi


Rachmatunnisa - detikInet

The moon moves past the sun during an annular solar eclipse in Puerto San Julian, Argentina, Wednesday, Oct. 2, 2024. (AP Photo/Natacha Pisarenko)
Foto: AP/Natacha Pisarenko
Jakarta -

Fenomena langit langka berupa gerhana Matahari cincin api akan terjadi pada 17 Februari 2026. Saat peristiwa ini, Bulan melintas tepat di depan Matahari namun tidak menutupinya secara penuh, sehingga tepi Matahari tampak membentuk cincin cahaya terang di langit.

Dikutip dari Space.com, gerhana cincin api terjadi ketika Bulan berada pada jarak yang lebih jauh dari Bumi dalam orbitnya. Akibatnya, ukuran Bulan tampak lebih kecil dibanding Matahari saat fase Bulan baru.

Fenomena ini akan melewati wilayah Antarktika sebagai jalur utama cincin api. Sementara itu, sejumlah wilayah di belahan selatan Bumi hanya akan melihat gerhana sebagian, ketika Bulan menutupi sebagian piringan Matahari.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Apa yang Terjadi di Tiap Fase?

Gerhana dimulai dengan fase parsial, saat Bulan mulai 'menggigit' tepi Matahari. Selanjutnya, bagi pengamat yang berada di jalur gerhana, fase annularity akan terjadi ketika Bulan berada tepat di tengah Matahari dan membentuk efek cincin api.

Pada fase puncak, Matahari tidak akan pernah sepenuhnya gelap seperti pada gerhana total. Cahaya terang tetap terlihat mengelilingi Bulan hingga akhirnya gerhana kembali ke fase parsial dan berakhir.

ADVERTISEMENT

Badan antariksa Amerika Serikat, NASA, menjelaskan perbedaan utama gerhana cincin api dengan gerhana total.

"Pada gerhana Matahari cincin, Bulan berada terlalu jauh dari Bumi untuk sepenuhnya menutupi Matahari, sehingga cahaya Matahari masih terlihat membentuk cincin terang," jelas NASA.

NASA juga kembali mengingatkan soal keselamatan saat mengamati gerhana. "Melihat Matahari secara langsung tanpa perlindungan khusus dapat menyebabkan kerusakan mata serius. Kacamata gerhana yang sesuai standar harus selalu digunakan," tulis NASA.

Bagi pecinta astronomi, gerhana cincin api ini menjadi salah satu fenomena langit paling menarik di awal 2026, meski tidak dapat disaksikan langsung dari Indonesia.




(rns/rns)





Hide Ads