Menurut Muhammad Awaluddin, Direktur Enterprise dan Business Services Telkom, rata-rata pertumbuhan layanan IT services untuk segmen korporasi dalam lima tahun terakhir mencapai double digit 11%.
Lebih menggiurkan lagi, pertumbuhan yang lebih pesat ditunjukkan pada segmen bisnis UKM yang tumbuh rata-rata 43%. Sehingga, total besaran revenue untuk new wave bisnis ini pada tahun 2013 lalu mencapai Rp 6 triliun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, ada tiga hal yang menjadi dasar pemikiran Telkom untuk terus mengembangkan bisnis IT services. Ketiganya kemudian dikemas dengan konsep Think BIG, yakni Business model (model bisnis), Innovation (inovasi), dan Growth (pertumbuhan).
Model bisnis ke pelanggan akan sangat ditentukan akibat terjadinya pergeseran pengeluaran biaya IT services di pelanggan korporasi saat ini, yang dikarenakan solusi berbasis cloud services, pembiayaan capital expenditure (capex) menjadi operational expenditure (opex), termasuk tuntutan pelanggan yang ingin terus menekan biaya operasi IT (lower operating cost).
Sedangkan inovasi saat ini berkembang ke arah mobile solution. Selain itu, terjadi pertumbuhan yang sangat pesat dalam konsumsi bandwidth di era big data saat ini. "Prediksi kami ke depan, organisasi korporasi dan bisnis UKM akan sangat banyak memanfaatkan social media sebagai network marketing mereka," kata Awaluddin.
Sementara dari sisi growth akan didorong oleh Telkom untuk mengantisipasi pertumbuhan pasar IT services yang diprediksi akan tumbuh sekitar 13% di 2014 ini.
"Telkom akan menggarap serius layanan cloud computing untuk Platform as a Services (PaaS), ekspansi data center, dan mulai jeli melihat tren BYOD (bring your own device) yang sangat berpotensi meningkatkan trafik data internet, termasuk aspek enterprise security," jelasnya.
BUMN telekomunikasi ini menargetkan perolehan revenue sebesar Rp 10 triliun di 2014 dengan komposisi 75% dari segmen enterprise dan 25% dari segmen UKM. Target revenue itu 61% diharapkan datang dari katagori layanan broadband dan IT services, dan 39% dari layanan suara dan layanan jaringan.
"Ini juga didorong dari karena ukuran pasar fixed dan IT services segmen korporasi di Indonesia tiga kali lebih besar dibandingkan segmen retail," pungkas Awaluddin.
(rou/rou)