Kanker otak glioblastoma belum ada obatnya, akan tetapi ilmuwan sepertinya menemukan cara untuk membunuh penyakit tersebut. Cara pengobatan potensialnya pun sesederhana dengan meminum sebuah pil.
Glioblastoma adalah tumor otak ganas grade IV yang agresif. Dia tumbuh cepat, sulit diobati, dan sering menyerang usia lanjut.
Glioblastoma ini memiliki insidensi global
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Glioblastoma adalah penyakit yang sangat merusak. Pada dasarnya tidak ada terapi yang efektif," kata Hui Li, seorang peneliti di Departemen Patologi Fakultas Kedokteran University of Virginia, dalam sebuah pernyataan minggu ini.
Namun pada tahun 2020, Hui dan rekan-rekannya telah mengambil langkah pertama untuk menemukan terapi tersebut. Mereka menemukan apa yang disebut 'onkogen' yang memicu perkembangan glioblastoma.
"Onkogen baru yang kami temukan menjanjikan sebagai titik lemah glioblastoma, dengan penargetan spesifiknya yang berpotensi menjadi pendekatan efektif untuk pengobatan penyakit ini," ungkapnya saat itu.
Sekarang, timnya telah mengumumkan tahap selanjutnya dalam pengembangan pengobatan atau penyembuhan untuk glioblastoma. Mereka mengidentifikasi molekul spesifik yang dapat memblokir aktivitas onkogen ini, dan yang, dalam studi pada tikus, mampu menghancurkan sel glioblastoma tanpa memengaruhi jaringan sehat.
"Yang baru di sini adalah kita menargetkan protein yang secara unik bergantung pada sel (glioblastoma) dan kita dapat melakukannya dengan molekul kecil yang memiliki aktivitas in vivo yang jelas," jelas Li.
Menurut Li, jalur ini belum pernah dieksploitasi secara terapeutik sebelumnya. Lebih lanjut, penelitiannya ini masih jauh dari produk jadi. Sebelum senyawa baru ini tersedia sebagai obat bagi pasien, ia harus terlebih dahulu melalui serangkaian uji klinis dan pengujian. Bahkan sebelum itu, perlu dipelajari lebih lanjut secara teoritis untuk mengetahui bagaimana cara terbaik untuk memanfaatkannya.
Kendati demikian, tak dimungkiri penemuan ini bisa dibilang hampir ajaib. Molekul tersebut mampu menembus sawar darah-otak yang merupakan hambatan besar bagi banyak pengobatan potensial lainnya untuk kanker otak.
"Pasien (glioblastoma) sangat membutuhkan pilihan yang lebih baik. Terapi standar belum berubah secara fundamental selama beberapa dekade, dan angka harapan hidup tetap suram," ujarnya.
"Tujuan kami adalah untuk menghadirkan mekanisme kerja yang sepenuhnya baru ke dalam praktik klinis, mekanisme yang menargetkan kerentanan inti dalam biologi glioblastoma," tandasnya.
Studi ini diterbitkan dalam Science Translational Medicine. Demikian melansir IFL Science.
(ask/ask)

