Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network
detikInet
Proyek Gila Elon Musk Bangun Data Center AI di Luar Angkasa

Proyek Gila Elon Musk Bangun Data Center AI di Luar Angkasa


Panji Saputro - detikInet

Astronaut in space above the clouds of the Earth..
Ilustrasi luar angkasa. Foto: Thinkstock
Jakarta -

Elon Musk punya ambisi besar membangun data center AI di luar angkasa. Ia akan menggabungkan perusahaan roketnya, SpaceX, dengan bisnis kecerdasan buatannya, xAI, untuk bisa mewujudkan hal itu.

"Dalam jangka panjang, AI berbasis luar angkasa jelas merupakan satu-satunya cara untuk meningkatkan skala," tulis Elon dalam sebuah memo yang SpaceX akan mengakuisisi xAI, dikutip dari Business Insider, Senin (9/2/2026).

Dirinya berpendapat, data center membutuhkan daya dan pendinginan dalam jumlah besar. Lalu permintaan listrik global untuk AI tidak dapat dipenuhi dengan solusi terestrial, bahkan dalam jangka pendek, tanpa menimbulkan masalah bagi masyarakat dan lingkungan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Oleh karena itu, satu-satunya solusi logis adalah memindahkan upaya-upaya yang membutuhkan banyak sumber daya ini ke lokasi dengan daya dan ruang yang luas. Maksud saya, ruang disebut 'ruang' bukan tanpa alasan," ujarnya.

Elon menjelaskan, ingin memanfaatkan langsung energi matahari yang hampir konstan dengan biaya pemeliharaan rendah. Oleh sebab itu ia berniat meluncurkan satu juta satelit ke orbit Bumi.

ADVERTISEMENT

"Meluncurkan konstelasi satu juta satelit yang beroperasi sebagai data center orbital adalah langkah pertama menuju peradaban tingkat Kardashev II, peradaban yang dapat memanfaatkan kekuatan penuh Matahari, sekaligus mendukung aplikasi berbasis AI untuk miliaran orang saat ini dan memastikan masa depan multi-planet umat manusia," imbuhnya.

Namun para ilmuwan dan pakar industri mengatakan, Elon akan menghadapi rintangan teknis, finansial, dan lingkungan yang berat. Memanfaatkan energi matahari dari luar angkasa memang dinilai dapat mengurangi tekanan pada jaringan listrik, dan memangkas permintaan akan pusat komputasi besar yang menghabisi lahan pertanian, hutan, dan sejumlah besar air untuk pendinginan.

Namun ruang angkasa menghadirkan serangkaian masalahnya sendiri. Data center menghasilkan panas sangat besar, lalu ruang angkasa tampaknya menawarkan solusi karena suhunya dingin. Namun di sana juga merupakan ruang hampa, yang memerangkap panas dalam benda-benda dengan cara yang sama seperti termos.

"Sebuah chip komputer tanpa pendingin di luar angkasa akan menjadi terlalu panas dan meleleh jauh lebih cepat daripada chip yang ada di Bumi," kata Josep Jornet, profesor teknik komputer dan elektro di Northeastern University.

Josep menyatakan, salah satu solusi yang bisa dilakukan adalah membangun panel radiator raksasa yang memancarkan cahaya inframerah untuk mendorong panas keluar ke ruang hampa. Tapi menurutnya, Elon juga akan menghadapi kerumitan dalam membangun struktur besar dan rapuh, yang belum pernah ada sebelumnya.

Ditambah lagi adanya sampah antariksa. Satu satelit yang mengalami kerusakan atau kehilangan orbit dapat memicu rentetan tabrakan, yang berpotensi mengganggu komunikasi darurat, prakiraan cuaca, dan layanan lainnya.




(hps/fay)





Hide Ads