Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network
detikInet
SpaceX Gabung xAI Katanya untuk Bikin Data Center di Luar Angkasa, Masa Sih?

SpaceX Gabung xAI Katanya untuk Bikin Data Center di Luar Angkasa, Masa Sih?


Anggoro Suryo - detikInet

A SpaceX Super Heavy booster carrying the Starship spacecraft lifts off on its 10th test flight at the companys launch pad in Starbase, Texas, U.S., August 26, 2025. REUTERS/Steve Nesius
Foto: REUTERS/Steve Nesius
Jakarta -

Elon Musk mengumumkan penggabungan SpaceX dan xAI dalam kesepakatan yang disebut bernilai USD 1,25 triliun. Musk menyebut langkah ini diperlukan karena pertumbuhan AI, menurutnya, pada akhirnya harus bergeser ke luar angkasa.

Dalam pernyataannya, Musk menilai AI saat ini terlalu bergantung pada data center di Bumi yang membutuhkan listrik dan pendinginan dalam skala besar. Hal itu memicu biaya lingkungan tinggi serta penolakan dari komunitas lokal.

Solusi yang ia dorong adalah data center berbasis satelit di orbit, memanfaatkan energi matahari untuk menopang komputasi AI dalam jangka panjang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

Musk bukan satu-satunya yang melirik konsep ini. Google disebut memiliki Project Suncatcher, sementara China dan Eropa juga mengeksplorasi data center di luar angkasa sebagai tren baru industri.

Namun di balik narasi futuristik itu, mungkin ada alasan lain yang jauh lebih sederhana: SpaceX sudah menghasilkan profit, sedangkan xAI masih merugi, demikian dikutip detikINET dari The Verge, Kamis (5/2/2026).

Laporan Bloomberg menyebut xAI menghabiskan sekitar USD 1 miliar per bulan untuk membangun infrastruktur, merekrut talenta, dan menjalankan platform X.

Sebaliknya, SpaceX dilaporkan mencetak profit sekitar USD 8 miliar dari pendapatan USD 16 miliar tahun lalu. Starlink menjadi sumber utama, menyumbang hingga 80% pendapatan perusahaan, dengan lebih dari 9 juta pengguna broadband.

SpaceX juga merupakan kontraktor pemerintah besar, mengamankan lebih dari USD 20 miliar kontrak NASA dan Departemen Pertahanan AS sejak 2008.

Rencana IPO SpaceX tahun ini disebut berpotensi menggalang investasi hingga USD 50 miliar.

Penggabungan ini memunculkan tanda tanya bagi investor: bagaimana pasar akan menilai penyatuan perusahaan yang menguntungkan dengan unit AI yang masih merugi.

Musk pernah melakukan langkah serupa pada 2016 ketika Tesla mengakuisisi SolarCity, yang kala itu terlilit utang. Merger tersebut sempat digugat pemegang saham, meski akhirnya Musk memenangkan perkara.

Kini, Musk juga menghadapi gugatan baru dari pemegang saham Tesla terkait pendirian xAI, yang dianggap bersaing dengan Tesla dalam perebutan talenta dan sumber daya AI.

Tesla sendiri telah menginvestasikan USD 2 miliar ke xAI, dan Grok mulai diintegrasikan ke beberapa kendaraan Tesla sebagai asisten suara.




(asj/rns)







Hide Ads