"Kami tidak bisa hanya berjualan di Jakarta saja walau potensi pendapatan dari pelanggan di wilayah ini besar. Prinsip sebagai seluler harus dilakukan yakni menghadirkan layanan di mana-mana," ujar Deputy CEO Smartfren Djoko Tata Ibrahim di Hotel JW Marriott, Jakarta, Rabu (7/12/2011).
Menurutnya, saat ini 50% dari pendapatan Smartfren dipasok oleh layanan data. Demi mendapatkan skala ekonomis yang maksimal, dibutuhkan ekspansi agresif ke kota-kota di luar Jakarta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Melalui kampanye "I hate slow" dalam setiap iklannya, Smart mengaku telah berhasil menambah jumlah pelanggan sekaligus menekan tingkat perpindahan (churn rate), hingga mengalami peningkatan jumlah pemakaian pulsa rata-rata per bulan.
Hingga akhir Oktober 2011 lalu, jumlah pelanggan Smartfren sudah mencapai 1 juta pelanggan data. Ini mencerminkan kenaikan dari 300.000 pelanggan di akhir 2010.
Akhir tahun ini diperkirakan akan menjadi 1,5 juta pelanggan data dan di tahun depan akan berlipat menjadi 3 juta pelanggan data.
Saat ini jumlah total pelanggan Smartfren sekitar 7 juta dan ditargetkan bisa 8 juta pelanggan di akhir 2011.
Di sisi tingkat churn rate, Smartfren mengklaim hanya sekitar kurang dari 3%, atau masih setara dengan operator lain di Indonesia.
Rata-rata pendapatan per pelanggan (average revenue per user/ARPU) Smarfren juga mengalami kenaikan. Pada 2010 lalu, ARPU layanan suara Smartfren masih Rp 12.000 per pelanggan, kini sudah menjadi Rp 15.000 per pelanggan per bulan.
Sedangkan ARPU layanan data meningkat dari rata-rata Rp 60.000 per bulan menjadi Rp 65.000-Rp 70.000 per pelanggan per bulan.
Smartfren sendiri baru saja menggelar teknologi akses data berbasis Code Division Multiple Access (CDMA). Setelah menggelar Evolution Data only (EVDO) Revision B (Rev B) fase 1 di Bali pada Januari 2010, operator yang memiliki 6,8 juta pelanggan ini menggelar EVDO Rev B fase 2 di Jabodetabek.
Kota lain yang akan segera menyusul adalah Bandung, Yogyakarta, Surabaya dan Malang.
EVDO Rev B fase I sendiri diklaim mampu menghantarkan data hingga 9,3 Mbps, sementara fase 2 bisa mencapai 14,7 Mbps dengan kondisi pelanggan berada di dekat Base Transceiver Station (BTS) dan mendapatkan kualitas sinyal yang ideal.
"Ditargetkan akhir tahun ini secara total pendapatan SmartFren mencapai Rp 1 triliun," kata Djoko Tata.
Operator seluler CDMA ini mengalokasikan tiga dari lima kanal yang dimiliki di spektrum 1.900 MHz untuk teknologi ini dengan dukungan 1.329 BTS.
Total BTS yang dimiliki oleh Smartfren adalah 4.626 site dan sedang dalam pembangunan sebanyak 700 BTS lagi. Belanja modalnya total mencapai 450 juta dollar AS hingga 2012 nanti.
(rou/ash)