Menurut data tersebut, turunnya harga ponsel dan naiknya pengembang aplikasi akan menjadi model yang dominan untuk akses broadband di pasar negara berkembang.
Broadband nirkabel dan sektor industri Indonesia yang terkait diprediksi memiliki potensi untuk menghasilkan USD 9,01 miliar, atau sekitar 1,68 persen PDB di 2015. Prediksi ini sesuai dengan studi Bank Dunia tahun 2009 dimana negara berkembang akan meningkatkan penetrasi broadband sebesar 10 persen.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia melanjutkan, Indonesia menduduki peringkat kedua terendah dibandingkan negara lain di Asia Pasifik dalam hal penetrasi wireline broadband, yang hanya mencapai 2,3 persen dari total populasi tahun 2010. Namun penetrasi wireline broadband diperkirakan mencapai 23 persen di 2015 nanti.
"Penetrasi tersebut diperkirakan akan tumbuh seiring semakin matangnya layanan 3G yang mulai diperkenalkan tahun 2006. Penetapan harga layanan 3G yang kompetitif sebagai akibat dari perang tarif dan promosi smartphone belakangan ini, diharapkan kian mendorong tingginya pertumbuhan tersebut," imbuh Jayesh.
(fw/rns)