Ada Mafia di Balik Kebocoran Data Pelanggan?

Ada Mafia di Balik Kebocoran Data Pelanggan?

- detikInet
Selasa, 25 Jan 2011 16:27 WIB
Jakarta - Tersiar kabar bahwa 25 juta lebih data pelanggan telekomunikasi di Indonesia telah bocor dan diperjualbelikan untuk berbagai kepentingan bisnis. Benarkah ada praktik mafia database yang bermain di sini?

Dugaan itu timbul dan kemudian jadi pertanyaan banyak orang sejak Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) menemukan laporan dan kejanggalan yang terjadi atas kebocoran data pelanggan.

Meski laporan ini tengah diselidiki BRTI, namun akar dari kebocoran nampaknya tetap akan sulit ditemukan -- meski bukan tidak mungkin. Sebab, bocornya data pelanggan, bukan kali ini saja terjadi. Walau demikian, upaya tetap harus dilakukan.

Belakangan, timbul juga dugaan dari Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) bahwa ada oknum operator yang bermain di sini. Namun kabar itu segera ditampik oleh para operator. Sebab menurut operator, kerahasiaan data pelanggan sangatlah confidential.

"Semua data pelanggan bersifat rahasia dan dilindungi UU Telekomunikasi No. 36/1999. Jadi tidak mungkin operator berani melakukan itu," kata Anita Avianty, head of Corporate Communication Natrindo Telepon Seluler (Axis) kepada detikINET, Selasa (25/1/2011).

Terkait adanya dugaan oknum operator yang bermain, Anita tidak memungkiri hal itu bisa saja terjadi, namun peluangnya bisa dibilang hampir tidak ada. "Kecil kemungkinan kalau di Axis. Pertama, jumlah customernya masih relatif sedikit. Kedua, dari 9 juta pelanggan kita mayoritas kan prabayar."

"Nah, biasanya bank lebih melihat pelanggan pascabayar, karena di sana harus ada KTP dan lainnya, jadi datanya lebih reliable. Sementara pelanggan pascabayar Axis jauh lebih kecil dari jumlah pelanggan prabayar, jadi tidak signifikan jumlahnya," jelas Anita.

Axis yang menawarkan jasa SMS murah dengan bonus SMS lintas operator hingga 10 ribu SMS, sempat dituding secara tidak langsung oleh operator lainnya sebagai salah satu biang keladi timbulnya kasus SMS spam perbankan dan kredit tanpa agunan (KTA).

Anita sendiri tak terima Axis disalahkan sepihak. "Yang terjadi mungkin kartu Axis pernah digunakan beberapa orang untuk menawarkan layanan perbankan tersebut. Tapi untuk pelanggan yang seperti itu Axis melakukan tindakan tegas, hingga pemblokiran," tegasnya.

Selain Axis, operator lain yang juga gencar menawarkan program SMS lintas operator dengan jumlah yang tak tanggung-tanggung adalah Hutchison CP Telecom Indonesia (Tri). Bonus yang ditawarkan mencapai 100 ribu SMS. Namun Tri tentunya juga tak mau disalahkan soal kasus bocornya data pelanggan.

"Kebocoran data itu bisa dari mana saja, sulit sekali di-track dan bukan sepenuhnya tanggung jawab dari operator. Dan sangat tidak adil kalau menjadi tanggung jawab operator," kata Hiro Whardana, Deputy GM Product Innovation Tri.

Menurutnya, pelanggan bisa saja menderita kebocoran data dari berbagai proses yang terjadi. Misalnya, saat mendaftar untuk service-service seperti di bengkel mobil, di hotel, restoran, dan lainnya. "Semua sekarang rata-rata meminta nomor yang bisa dihubungi," kata Hiro.

"Atau kebocoran ke sesama 'agen' penjual kartu kredit," duganya.

Ia pun menegaskan, operator selama ini tidak pernah memberikan data nomor ponsel jika ada perusahaan yang ingin membeli layanan SMS broadcast dari Tri. "Semua data itu adalah data dari pihak yang ingin memakai layanan broadcast," kata dia.

Hiro pun menilai, yang perlu dicermati dari kasus ini adalah, "kebanyakan SMS KTA itu dari nomor panjang, bukan spesial masking atau nomor shortcode."

"Ini berarti ada pihak yang memang punya database nomor telepon, yang sumbernya entah dari mana, kemudian mengirim sendiri baik dengan aplikasi menggunakan GSM modem atau ponsel mereka," duga dia.

Ia pun menegaskan, pihak operator sendiri akan sulit sekali untuk memblokir nomor panjang tersebut karena dua hal.

"Pertama, kami tidak melakukan pengecekan isi SMS satu persatu karena itu adalah bagian dari privasi pelanggan. Kedua, nomor panjang tersebut melakukan kewajibannya sebagai pelanggan, dengan membeli pulsa dan starter pack."

"Kalau kita block pelanggan yang mengirim SMS banyak sekali setiap hari, bisa saja itu adalah end user yang mengirimkan SMS banyak ke user lain," papar Hiro.

Jadi kalau bukan operator, siapa kiranya yang bisa membocorkan data rahasia pelanggan?

(rou/ash)