Keterbatasan fisik tak selalu menjadi penghalang untuk berkarya. Kisah seorang pria lumpuh asal Chongqing, China, justru membuktikan bahwa teknologi bisa menjadi jembatan menuju kemandirian dan harapan baru.
Dengan kondisi tubuh yang hanya mampu menggerakkan satu jari dan satu jempol kaki, Li Xia berhasil membangun sistem pertanian pintar (smart farm) bersama ibunya.
Dilansir dari South China Morning Post, Li Xia menderita distrofi otot (muscular dystrophy) sejak usia lima tahun. Penyakit langka ini membuat otot-ototnya melemah secara progresif.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia terpaksa berhenti sekolah saat duduk di kelas lima sekolah dasar dan menjalani hidup dengan keterbatasan yang semakin berat dari tahun ke tahun. Meski tak bisa melanjutkan pendidikan formal, semangat belajar Li tak pernah padam. Ia mulai mengenal komputer dari buku pelajaran milik adik perempuannya. Ketertarikannya pada fisika dan ilmu komputer tumbuh secara otodidak.
"Setiap konsep komputer di buku itu membuat saya terpesona. Saya membacanya berulang kali," ujar Li kepada CCTV.
Pada usia 25 tahun, Li mulai serius mempelajari pemrograman komputer melalui forum daring. Seiring waktu, kondisi fisiknya terus memburuk.
Ia kehilangan kemampuan berjalan, tak lagi mampu merawat diri sendiri, hingga akhirnya harus bergantung pada ventilator untuk bernapas. Pada 2020, Li sempat mengalami koma dan menjalani prosedur trakeotomi. Dokter bahkan sempat menyatakan harapan hidupnya sangat terbatas.
Li Xia terbaring di ranjang rumah sakit. Ia bergantung pada ventilator untuk tetap hidup. Foto: CCTV |
Ide Smart Farm Lahir dari Masa Pemulihan
Awal 2021 menjadi titik balik. Saat menjalani masa pemulihan, Li menemukan konsep budidaya tanpa tanah (hidroponik). Dari sanalah muncul ide besar: menggabungkan Internet of Things (IoT) dengan pertanian modern.
Dengan bantuan keyboard virtual, Li menulis kode program dan mengembangkan sistem kontrol pintar untuk mengatur suhu, kelembapan, irigasi, hingga pencahayaan tanaman. Semua dilakukan hanya dengan satu jari dan satu jempol kaki, dari atas ranjang, sambil terhubung ke ventilator.
Di balik keberhasilan Li, ada sosok ibunya, Wu Dimei, yang menjadi pilar utama perjuangan ini. Sejak orang tua Li bercerai pada 2017, Wu sepenuhnya merawat putranya. Semua pekerjaan fisik di lapangan ia lakukan berdasarkan instruksi Li.
Awalnya, Wu sama sekali tak memahami dunia teknologi. Namun demi mendukung impian anaknya, ia belajar menyolder papan kontrol, memasang kabel jaringan, menghubungkan sirkuit, hingga merawat perangkat pertanian.
"Ibu saya sekarang bisa melakukan segalanya," kata pria berusia 36 tahun ini.
"Meski ia tak paham teorinya, ia tahu persis cara menyambung kabel dan memasang semuanya."
Salah satu pencapaian mereka yang paling mencuri perhatian adalah merakit kendaraan tanpa pengemudi berpengendali jarak jauh untuk membantu pengambilan dan pengiriman hasil panen.
Yuchen Farm Mulai Berbuah
|
Anggota keluarga Li mengunjunginya di rumah sakit. Orang-orang di internet mengatakan kisahnya adalah bukti bahwa hidup memiliki
|
Li juga berencana mengembangkan teknologi baru dan melakukan diversifikasi produk, termasuk menanam tomat ceri dengan sistem pertanian pintar yang lebih canggih.
Kisah Li dan ibunya viral setelah dilaporkan CCTV dan menyentuh hati jutaan warganet di China. Banyak yang memuji keteguhan hati sang ibu dan kegigihan Li dalam menghadapi keterbatasan ekstrem.
"Dari hanya punya satu jari hingga menjadi pengusaha, ia membuktikan hidup penuh kemungkinan," tulis seorang netizen.
Yang lain berkomentar, "Ini makna sejati pepatah: seorang ibu menjadi kuat demi anaknya."
Lebih dari sekadar cerita haru, kisah Li Xia menunjukkan bagaimana teknologi dapat memberdayakan penyandang disabilitas, membuka peluang ekonomi baru, dan menghadirkan harapan di sektor pertanian pintar. Dengan tekad dan dukungan keluarga, keterbatasan fisik bukanlah akhir dari segalanya.
(afr/rns)
