Keputusan berani Xiao Hong menolak tawaran akuisisi dari ByteDance kini berbuah manis. CEO Manus tersebut akhirnya "dibayar" jauh lebih besar oleh Mark Zuckerberg, setelah Meta mengakuisisi startup AI yang dipimpinnya dengan nilai sekitar USD 2 miliar atau sekitar Rp 33 triliun, tergantung asumsi kurs.
Akuisisi ini langsung menjadi salah satu kesepakatan AI terbesar Meta sepanjang 2025. Namun sorotan publik global justru tertuju pada sosok Xiao Hong, pengusaha muda asal China berusia 33 tahun yang kini masuk jajaran elite pemimpin AI dunia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berani Menolak ByteDance
Sebelum kesepakatan dengan Meta terjadi, Xiao Hong sempat menerima proposal akuisisi dari ByteDance-induk TikTok-untuk salah satu produk AI-nya. Nilai tawaran tersebut dilaporkan mencapai puluhan juta dolar AS. Alih-alih menerima jalan pintas itu, Xiao memilih melanjutkan pengembangan teknologi dan membangun valuasi jangka panjang.
Keputusan tersebut terbilang berisiko, mengingat persaingan AI global yang kian brutal serta tekanan geopolitik antara Amerika Serikat dan China. Namun Xiao tampaknya yakin bahwa teknologi yang ia kembangkan belum mencapai puncak potensinya.
Dari Monica.ai ke Manus
Langkah besar Xiao Hong dimulai dari Monica.ai, ekstensi browser berbasis AI yang dijuluki "ChatGPT untuk Google". Produk ini sukses menggaet lebih dari 10 juta pengguna global berkat fitur produktivitas seperti pencarian real-time, rangkuman dokumen, dan sintesis informasi lintas sumber.
Manus AI Foto: SCMP |
Kesuksesan Monica menjadi fondasi kelahiran Manus. Pada 6 Maret 2025, Manus diperkenalkan sebagai "agen AI umum" yang mampu bekerja secara otonom-bukan sekadar menjawab perintah, tetapi merencanakan, mengeksekusi, dan mengevaluasi tugas kompleks secara mandiri.
Manus Menggegerkan Dunia AI
Manus.im langsung viral karena kemampuannya menangani tugas end-to-end, mulai dari deployment kode full-stack, penyusunan itinerary perjalanan personal, analisis saham, hingga pengeditan video. Di sejumlah benchmark AI seperti GAIA, Manus disebut mampu menyaingi bahkan melampaui model-model AI papan atas.
Antusiasme publik begitu tinggi hingga undangan beta Manus sempat diperjualbelikan dengan harga fantastis di pasar sekunder. Di sisi lain, popularitas ini juga memicu diskusi soal keamanan data dan penggunaan arsitektur multi-model yang dirumorkan memadukan beberapa sistem AI frontier.
Taruhan Besar Zuckerberg
Akuisisi Manus oleh Meta pada 29 Desember 2025 menjadi penegasan arah strategi Mark Zuckerberg. Meta ingin melangkah lebih jauh dari chatbot konvensional menuju era agentic AI, di mana AI dapat bertindak sebagai "asisten digital otonom" bagi miliaran pengguna Facebook, Instagram, dan WhatsApp.
Xiao Hong kini dilaporkan bekerja langsung di bawah struktur pimpinan Meta, dengan Manus digabungkan ke dalam ekosistem AI Meta, termasuk pengembangan model Llama. Bagi Meta, ini bukan sekadar membeli startup, melainkan membeli keunggulan teknologi dan visi jangka panjang.
Kisah Xiao Hong menjadi bukti bahwa menolak tawaran besar di tahap awal bukan selalu kesalahan. Dengan kesabaran dan keyakinan pada teknologi, ia justru berhasil mengamankan kesepakatan bernilai Rp 31 triliun dari Mark Zuckerberg.
Dari proyek kecil berbasis WeChat hingga memimpin AI yang diakuisisi raksasa Silicon Valley, perjalanan Xiao Hong kini menjadi inspirasi baru di dunia startup teknologi-bahwa keberanian mengambil risiko bisa berujung pada hadiah yang jauh lebih besar.
(afr/afr)
