Mantan artis Fabiola Elizabeth jadi tersangka kasus scammer internasional dengan korban di Amerika Serikat. Penipuan online tidak kenal batas negara.
"Ini memang akarnya kejahatan berbasis internet. Internet menghilangkan sekat geografis dan pada dasarnya internet itu sebenarnya bersifat anonim atau sulit diidentifikasi," kata pakar keamanan siber dari Vaksincom, Alfons Tanujaya kepada detikINET, Kamis (4/6/2026).
Menurut Alfons, komplotan penipu terorganisir cenderung akan menghindari melakukan penipuan dari yurisdiksi negara korbannya. Jadi kalau mau menipu orang Indonesia lakukan dari Kamboja, menipu orang Amerika, Vietnam, China atau Eropa lakukan dari Indonesia.
"Memang itu pola dan strateginya supaya lebih sulit dideteksi. Penegak hukum atau masyarakat di sekitar penipu akan lebih sulit mengidentifikasi atau secara hukum juga konsekuensinya lebih rendah dibandingkan dilakukan di negara korban yang bersangkutan," jelasnya.
Untuk melakukan penipuan ini, modalnya harus ada yang bisa berbahasa seperti korban. Itu sebabnya banyak orang Indonesia direkrut di Kamboja untuk untuk menipu orang Indonesia yang lain.
"Atau sebaliknya rekrut orang Vietnam atau China dan pekerjakan di Indonesia di kasus Hayam Wuruk untuk menipu orang China atau Vietnam," kata Alfons.
Tantangan dari sisi aparat hukum kata Alfons adalah birokrasi lebih panjang karena yuridksi lintas negara. Tapi bukan artinya tidak bisa dilakukan. Pertukaran informasi lewat interpol bisa menjadi salah satu caranya.
"Jadi kalau yang keluar negeri, ya harus bekerjasama dengan lembaga terkait di luar negeri khususnya interpol atau badang terkait seperti imigrasi dan kementerian luar negeri," pungkasnya.
Simak Video "Video Kisah WNI Eks Pekerja Penipuan Online Kamboja: Dipukul-Tak Diberi Makan"
(fay/fyk)