Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Lintasarta dan Perbanas Bahas Strategi Keamanan Siber Perbankan

Lintasarta dan Perbanas Bahas Strategi Keamanan Siber Perbankan


Ega Shepiani - detikInet

Lintasarta dan Perbanas Bahas Strategi Keamanan Siber Perbankan
Foto: Ega Shepiani/detikcom
Jakarta -

Lintasarta bersama Perhimpunan Bank Nasional (PERBANAS) menggelar CxO Forum Banking Update 2026 bertema 'Memperkuat Keamanan Siber Perbankan: Strategi Investasi dan Ketahanan Operasional di Era Digital' di Hotel Indonesia Kempinski Jakarta. Forum ini menjadi wadah strategis bagi pimpinan perbankan, regulator, dan pelaku industri untuk membahas penguatan keamanan digital di tengah percepatan adopsi kecerdasan artifisial (AI).

Sektor keuangan Indonesia saat ini memasuki fase baru pertumbuhan yang didorong oleh akselerasi pemanfaatan AI. Seiring berkembangnya inovasi digital, lanskap ancaman siber juga turut berevolusi. Mulai dari ransomware, advanced persistent threats, hingga rekayasa sosial berbasis AI seperti deepfake dan phishing generatif.

Dalam konteks tersebut, ketahanan siber menjadi fondasi strategis yang memungkinkan industri perbankan terus berinovasi secara aman dan berkelanjutan. Melalui forum ini, diharapkan tercipta ruang dialog strategis untuk menyelaraskan perspektif bahwa keamanan siber tidak lagi sekadar fungsi proteksi, melainkan bagian integral dari strategi pertumbuhan dan transformasi industri perbankan nasional.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

President Director & CEO Lintasarta, Armand Hermawan mengatakan acara ini merupakan komitmen forum dalam memperkuat ekosistem perbankan untuk menghadapi ancaman cyber attack.

"Ketahanan siber tidak bisa dibangun sendiri-sendiri, melainkan harus dilakukan melalui penguatan ekosistem digital secara bersama-sama," ujar Armand, dalam keterangan tertulis, Rabu (13/5/2026).

ADVERTISEMENT

Armand mengatakan selama tiga dekade, Lintasarta yang telah berdiri selama 38 tahun melihat perubahan lanskap industri perbankan dan menjadi bagian integral dari perkembangan tersebut. Ancaman siber pun kini semakin beragam.

Armand juga menilai keamanan siber tidak hanya menjadi perhatian bank-bank besar, seperti bank BUKU 4 atau BUKU 3, tetapi juga harus mencakup bank-bank kecil.

"Sebab, transaksi tidak bisa dibatasi dari mana ke mana, sehingga seluruh pihak dalam ekosistem harus terlibat," kata Armand.

Menurutnya, AI tidak hanya dapat meningkatkan service level agreement (SLA), tetapi juga memperkuat ketahanan siber perbankan. Sebab, serangan siber terhadap bank besar kini tidak lagi dilakukan oleh individu semata, melainkan sudah melibatkan korporasi hingga negara.

"Melalui forum ini, mudah-mudahan kita dapat menghadirkan first-floor discussion serta menghasilkan outcome yang lebih baik bagi kita semua," tutur Armand.

Lintasarta sebagai Beyond AI Factory hadir sebagai enabler transformasi digital melalui kerangka layanan terintegrasi 4C, yakni Connectivity, Cloud, Cybersecurity, dan Collaboration. Pendekatan ini dirancang untuk memastikan setiap inisiatif transformasi digital perbankan berjalan di atas fondasi yang aman, berdaulat, dan siap menghadapi beban kerja AI berskala enterprise.

Dengan pendekatan tersebut, Lintasarta tidak hanya sebagai penyedia infrastruktur, melainkan sebagai mitra teknologi perbankan dalam membangun ketahanan operasional yang adaptif di era digital.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum PERBANAS Hendra Lembong mengatakan transformasi digital telah membawa perubahan besar dalam industri perbankan. Layanan keuangan menjadi semakin cepat, mudah diakses, dan lebih personal.

"Pemanfaatan teknologi, termasuk artificial intelligence, machine learning, cloud, dan berbagai inovasi digital lainnya, telah membuka ruang baru bagi perbankan untuk meningkatkan kualitas layanan serta efisiensi operasional," ujar Hendra.

Namun, menurutnya transformasi digital juga membawa konsekuensi yang tidak ringan. Semakin luas digitalisasi yang dilakukan, semakin luas pula ruang risiko yang harus dikelola.

"Risiko siber tidak lagi dapat dipandang sebagai isu teknis semata. Saat ini, risiko siber merupakan risiko bisnis, risiko operasional, risiko reputasi, bahkan risiko terhadap kepercayaan publik pada industri perbankan," kata Hendra.

Hendra menyinggung data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terkait Anti-Scam Center yang mencatat nilai kerugian mencapai triliunan rupiah dan sebagian besar dana tidak bisa dipulihkan.

"Kalau tidak salah, yang berhasil direcover mungkin hanya sekitar 20-30%, bahkan mungkin tidak sampai. Artinya, ada uang tabungan masyarakat yang hilang dan tidak tergantikan," tutur Hendra.

Karena itu, menurut Hendra penguatan teknologi menjadi tanggung jawab bersama. Teknologi dinilai ibarat pisau bermata dua yang di satu sisi membawa kemajuan, tetapi di sisi lain juga menghadirkan risiko besar. Lewat forum ini, industri perbankan diharapkan dapat meningkatkan kesiapan menghadapi ancaman siber sekaligus menjadikan keamanan digital sebagai bagian dari strategi investasi jangka panjang.

Di tengah disrupsi digital yang terus berkembang, ketahanan siber dinilai akan menjadi faktor kunci dalam menjaga stabilitas sistem keuangan nasional serta memperkuat kepercayaan publik. Bersama Lintasarta, industri keuangan nasional juga diharapkan memiliki mitra teknologi yang mampu menerjemahkan kompleksitas ancaman digital menjadi peluang membangun keunggulan kompetitif yang berkelanjutan.

(akd/ega)




Hide Ads