Jelang Harbolnas 12.12, Ini 3 Penipuan yang Harus Diwaspadai

Jelang Harbolnas 12.12, Ini 3 Penipuan yang Harus Diwaspadai

Anggoro Suryo Jati - detikInet
Selasa, 07 Des 2021 19:42 WIB
Ilustrasi keamanan siber
Foto: Shutterstock
Jakarta -

Jika konsumen di China memiliki Single's Day dan konsumen di Amerika Serikat memiliki Black Friday, maka konsumen di Indonesia memiliki Hari Belanja Online Nasional atau yang lebih dikenal dengan Harbolnas.

Pada tahun 2019, konsumen Indonesia menghabiskan lebih dari Rp 9 triliun ketika berlangsung Harbolnas - total tersebut adalah enam persen dari total pendapatan e-commerce yang dihasilkan dalam satu tahun saja, hanya dalam satu hari.

"Konsumen di Indonesia telah lebih melek, paham, dan lebih banyak menggunakan aplikasi selular pada saat pandemi dibandingkan sebelumnya," ujar Justin Lie, Pendiri dan CEO Shield, perusahaan intelijen risiko seluler, dalam keterangan yang diterima detikINET, Selasa (7/12/2021).

"Tingkat penetrasi internet selular yang tinggi, meningkatnya jumlah opsi pembayaran digital, dan kemajuan pada infrastruktur teknologi telah menjadikan Indonesia salah satu pasar aplikasi selular dengan pertumbuhan tercepat di dunia," tambahnya.

Sayangnya, perayaan Harbolnas bukan hanya menjadi kesempatan untuk konsumen Indonesia dalam mendapatkan penawaran terbaik; tetapi juga menjadi peluang bagi penipu yang menargetkan toko-toko ritel online.

Ketika aplikasi selular e-commerce semakin menjadi pilihan utama bagi konsumen Indonesia dalam berbelanja, maka keamanannya harus menjadi prioritas utama bagi toko-toko online tersebut. Berikut adalah tiga serangan penipuan paling umum yang harus diwaspadai oleh para penyedia aplikasi e-commerce:

1. Scalping

Ini mengacu pada proses menggunakan bot untuk membeli produk yang sedang popular atau diskon secepat mungkin dan kemudian menjualnya kembali dengan harga yang telah dinaikkan dari harga semula.

2. Penipuan Promosi

Kode promo dan voucher adalah sesuatu yang sangat umum diberikan selama Harbolnas berlangsung. Penggunaan kode promo dan voucher adalah cara yang bagus untuk menarik pelanggan baru dan membuat pelanggan lama tetap kembali. Tapi ternyata kode promo dan voucher juga menarik penipu untuk membuat akun palsu dan menggunakan kode promo yang sama berulang kali.

3. Pengambilalihan Akun

Perusahaan e-commerce tentu sudah tidak asing dengan serangan pengambilalihan akun atau Account Takeovers. Adanya Harbolnas atau tidak, penipuan dengan pengambilalihan akun selalu merajalela di platform online mana pun. Para penipu berbaur menjadi satu dengan pembeli yang sah dan meluncurkan serangan-serangan pengambilalihan akun aplikasi e-commerce selama waktu traffic yang sedang ramai-ramainya.

Meskipun bisnis e-commerce cenderung berfokus pada serangan terkait pembayaran, toko-toko online harus menyadari cara lain yang dapat dilakukan oleh penipu untuk menyerang sistem mereka.

Dengan banyaknya jumlah pembelanjaan yang terjadi menggunakan smartphone, toko-toko online harus memberi perhatian khusus pada aktivitas-aktivitas berbahaya yang dapat terjadi di aplikasi-aplikasi selular mereka.

Aplikasi-aplikasi selular memerlukan berbagai jenis solusi dan strategi pencegahan penipuan. Pendekatan mobile-first untuk mencegah penipuan dan penyalahgunaan data sangat diperlukan agar dapat mengetahui potensi ancaman-ancaman yang akan terjadi, serta dapat melindungi pengguna.

"Jika toko-toko online tidak melakukan ini, maka perayaan Harbolnas ini mungkin akan berubah menjadi suatu mimpi buruk nantinya," tutup Justin.



Simak Video "BMKG Bentuk Tim Keamanan Siber CSIRT"
[Gambas:Video 20detik]
(asj/fay)