Ada CSIRT, Peringkat Keamanan Siber RI Naik Jadi Ke-24

Ada CSIRT, Peringkat Keamanan Siber RI Naik Jadi Ke-24

Yudistira Perdana Imandiar - detikInet
Selasa, 12 Okt 2021 19:59 WIB
CSIRT BSSN
Foto: BSSN
Jakarta -

Serangan siber menjadi salah satu ancaman keamanan nasional di era disrupsi teknologi. Hingga September 2021 Badan Siber dan Sandi Negara Republik Indonesia (BSSN RI) mencatat lebih dari 888,7 juta serangan siber.

Pada acara launching Kementan-CSIRT dalam penanganan insiden siber, Kepala BSSN Hinsa Siburian mengatakan negara harus hadir dalam menghadapi serangan siber. Sesuai amanat presiden, BSSN bertanggung jawab melaksanakan tugas pemerintah di bidang keamanan siber.

"Di sinilah peran CSIRT sebagai penyediaan pemulihan dari insiden keamanan siber," kata Hinsa dikutip dalam keterangan tertulis, Selasa (12/10/2021).

Untuk menanggulangi berbagai jenis serangan siber, kata Hinsa, BSSN membentuk Computer Security Incident Response Team (CSIRT), sebuah tim yang bertanggung jawab untuk menerima, meninjau, dan menanggapi laporan dan aktivitas insiden keamanan siber. CSIRT terdiri atas CSIRT Nasional, CSIRT Sektoral pada sektor administrasi pemerintahan, energi dan sumber daya mineral, transportasi, keuangan, kesehatan, teknologi informasi dan komunikasi, pangan, pertahanan, sektor lain yang ditetapkan oleh presiden, serta CSIRT Organisasi.

Hinsa memaparkan CSIRT merupakan salah satu major project yang dijalankan oleh BSSN guna memperkuat keamanan siber Indonesia. Pembentukan CSIRT tertuang dalam Perpres No 18 Tahun 2020 tentang RPJMN 2020-2024. Pada tahun 2024 mendatang, BSSN menargetkan untuk membentuk 121 CSIRT yang tersebar di berbagai kementerian/lembaga dan daerah se-Indonesia.

Di tahun 2021, BSSN menargetkan akan membentuk 39 CSIRT. Pembentukan CSIRT ini sejalan dengan penerapan Sistem Pemerintah Berbasis Elektronik (SPBE) yang penjelasannya tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 95 Tahun 2018 tentang SPBE. CSIRT berperan sebagai penyediaan pemulihan dari insiden keamanan siber.

Hinsa menyebut pembentukan CSIRT merupakan salah satu aspek yang mendorong peningkatan indeks keamanan siber global atau Global Security Index (GCI). Berdasarkan penilaian dari International Telecommunication Union (ITU), GCI Indonesia menduduki peringkat ke-41 di tahun 2018. Saat ini, Indonesia telah naik peringkat ke 24 dari 194 negara di tahun 2021. Sementara di tingkat regional, Indonesia menempati peringkat ke-6 di Asia Pasifik dan peringkat ke-3 di ASEAN setelah Singapura dan Malaysia.

Untuk diketahui, GCI adalah referensi yang mengukur komitmen negara-negara anggota terhadap cybersecurity tingkat global. Penilaian yang didapatkan oleh suatu negara berdasarkan lima pilar parameter dengan 20 indikator yang berisikan delapan puluh dua pertanyaan.

Hinsa menguraikan terdapat lima pilar yang menjadi indikator perkembangan keamanan siber di setiap negara, yakni pertama Legal Measures yang dilihat dari perangkat aturan dan institusi yang mengatur tentang keamanan siber.

Kedua, Technical Measures yang merupakan penilaian terkait dengan penilaian terhadap lembaga teknis yang menangani keamanan siber. CSIRT merupakan salah satu unsur penilaian dalam aspek teknis pada GCI. Melihat fungsi CSIRT yang begitu penting bagi penanganan insiden keamanan siber, jelas Hinsa, BSSN RI terus berupaya melakukan percepatan dalam mendorong pembentukan CSIRT, baik CSIRT Sektor di seluruh sektor yang ditetapkan maupun CSIRT organisasi di masing-masing kementerian/lembaga/daerah dan organisasi lainnya sebagai penyelenggara sistem elektronik.

Ketiga, Organizational Measures merupakan peninjauan organisasi dalam kebijakan dan strategi terkait pengembangan keamanan siber. Keempat, Capacity Development Measures didasarkan pada penelitian dan pengembangan, program pendidikan dan pelatihan, serta peningkatan kapasitas lembaga sertifikasi sektor profesi dan publik. Kelima, Cooperation Measures ditinjau dari capaian kerja sama dan partisipasi dalam hal keamanan siber di kancah internasional.

Dalam RPJMN Tahun 2020-2024, lanjut Hinsa, GCI merupakan salah satu indikator prioritas penguatan ketahanan dan keamanan siber yang ditandai dengan target peningkatan skor GCI yang dilaksanakan setiap dua tahun sekali.

Hinsa mengulas skor Indonesia yang dicapai pada GCI tahun 2020 adalah 94.88 atau naik sebesar 17.28 poin dari skor pada tahun 2018. Hal ini memenuhi target RPJMN 2020-2024 yang menetapkan bahwa target penilaian GCI Indonesia tahun 2020 yaitu sebesar 79.20.

"Keberhasilan peningkatan peringkat GCI Indonesia tersebut merupakan wujud komitmen dan hasil kerja sama seluruh pemangku kepentingan keamanan siber nasional baik pemerintah, pelaku usaha, akademisi, dan komunitas," imbuh Hinsa.



Simak Video "BSSN Deteksi 495 Juta Serangan Siber di Indonesia Pada 2020"
[Gambas:Video 20detik]
(prf/fay)