Pindah dari WhatsApp ke Telegram Dinilai Ide Buruk

Pindah dari WhatsApp ke Telegram Dinilai Ide Buruk

Fino Yurio Kristo - detikInet
Senin, 15 Feb 2021 13:10 WIB
LONDON, ENGLAND - MAY 25:  A close-up view of the Telegram messaging app is seen on a smart phone on May 25, 2017 in London, England. Telegram, an encrypted messaging app, has been used as a secure communications tool by Islamic State. (Photo by Carl Court/Getty Images)
Aplikasi Telegram (Foto: Carl Court/Getty Images)
Jakarta -

Banyak user berpindah dari WhatsApp ke layanan pesaing seperti Signal dan Telegram, menyusul aturan privasi baru WhatsApp yang meresahkan. Akan tetapi pakar sekuriti kembali berbicara jangan tergesa-gesa meninggalkan WhatsApp, apalagi jika pilihannya Telegram.

"Signal lebih aman dari WhatsApp, Telegram tidak. Faktanya, arsitektur berbasis Cloud Telegram adalah risiko serius jika dibandingkan enkripsi end to end default yang ada di Signal dan WhatsApp, yang juga memakai protokol Signal," sebut pakar sekuriti Zak Doffman dalam kolomnya di Forbes.

Ia memaparkan, semua pesan grup di Telegram hanya dienkripsi antara perangkat pengguna dengan cloud Telegram, history pesan disimpan di cloud Telegram dan jika percakapan WhatsApp dipindah ke Telegram, juga disimpan di cloud mereka.

Nah, Telegram punya kunci semua data yang disimpan di cloud tersebut. "Telegram takkan bicara tentang isu serius di arsitektur keamanannya jika dibanding Signal dan WhatsApp, klaim bahwa mereka lebih aman dari WhatsApp jelas salah," sebut Doffman yang dikutip detikINET, Senin (15/2/2021).

Telegram selalu membanggakan fitur secret chat yang memang hanya di mode ini ada enkripsi end to end. Namun demikian, periset keamanan Dhiraj Mishra dalam laporannya baru-baru ini menyatakan ada celah keamanan sehingga percakapan di Telegram MacOs tidak pernah benar-benar dihapus.

Memang celah itu sudah ditambal, tapi menurut Doffman tetaplah menunjukkan kelemahan Telegram. "Celah keamanan di secret chat adalah bukti lain bahwa pindah dari WhatsApp ke Telegram, dengan tidak adanya dukungan default enkripsi end to end, adalah ide buruk," tulisnya.

Ia pun berharap user tidak gegabah meninggalkan WhatsApp ke Telegram, lebih baik menggunakan Signal. "Jangan tergesa pindah dari WhatsApp terkait kontroversi privasi. Anda bisa menjalankan WhatsApp dan Signal secara paralel dan semakin banyak kontak melakukan hal yang sama, Signal akan lebih banyak digunakan," begitu sarannya.



Simak Video "Telegram Sambut 70 Juta Pengguna Baru Usai WhatsApp Down"
[Gambas:Video 20detik]
(fyk/fay)