Telegram Diserang Isu Iklan, Pavel Durov Beri Penjelasan

Telegram Diserang Isu Iklan, Pavel Durov Beri Penjelasan

Agus Tri Haryanto - detikInet
Sabtu, 13 Feb 2021 22:05 WIB
LONDON, ENGLAND - MAY 25:  A close-up view of the Telegram messaging app is seen on a smart phone on May 25, 2017 in London, England. Telegram, an encrypted messaging app, has been used as a secure communications tool by Islamic State. (Photo by Carl Court/Getty Images)
Foto: Carl Court/Getty Images
Jakarta -

CEO Telegram Pavel Durov kembali bersuara setelah layanan pesan instan besutannya itu diserang kabar meresahkan, yaitu bahwa Telegram akan disusupi iklan.

Saat ini, Telegram tengah menanjak kepopulerannya di tengah persoalan privasi pada kebijakan baru WhatsApp. Laporan Sensor Tower mengungkapkan, ada lebih dari 63 juta unduhan di Januari, di mana itu membuat Telegram jadi aplikasi non-game paling banyak diunduh di seluruh dunia.

Semakin tinggi pohon, semakin kencang pula angin yang berhembus di atasnya. Hal itu dirasakan Telegram sekarang, ketika banyak informasi menyesatkan yang membawa nama mereka. Menurut Durov, hoax itu tujuannya guna memperingatkan pengguna agar tidak beralih ke Telegram.

Melalui chanel miliknya di Telegram, Durov menegaskan bahwa Telegram tidak akan menerapkan iklan dalam percakapan para penggunanya.

"Pengguna yang mengandalkan Telegram sebagai aplikasi perpesanan, bukan jejaring sosial, tidak akan pernah melihat iklan. Percakapan pribadi dan grup selalu dan akan selalu bebas iklan," janji Durov.

Meski banyak pengguna WhatsApp maupun aplikasi pesan instan lainnya beralih ke Telegram, tidak serta merta membuat perusahaan mulai memanfaatkan dengan mengimplementasikan iklan.

Durov juga mengatakan bahwa data pengguna Telegram tidak akan digunakan untuk menargetkan iklan. Telegram, dikatakan pria yang kerap berpakaian hitam ini, ingin meniru DuckDuckGo, bukan WhatsApp maupun Facebook.

"Kami percaya bahwa mengumpulkan data pribadi dari pengguna untuk menargetkan iklan seperti yang dilakukan WhatsApp-Facebook adalah tidak bermoral. Kami menyukai pendekatan layanan sadar privasi seperti DuckDuckGo: memonetisasi layanan tanpa mengumpulkan informasi tentang pengguna," jelasnya.

"Jadi jika kami memperkenalkan iklan di satu ke banyak saluran, itu akan menjadi kontekstual -berdasarkan topik saluran, tidak ditargetkan berdasarkan data pengguna manapun," ucap Durov menambahkan.

Di sebagian besar pasar, pembuat konten di Telegram sudah melakukan monetisasi konten mereka dengan mempromosikan di chanelnya. Tapi, Durov memandang itu tidak tepat dan dinilai mengganggu.

"Kami ingin memperbaiki situasi ini dengan menawarkan alternatif sadar privasi untuk pemilik chanel," imbuh dia.



Simak Video "Telegram Sambut 70 Juta Pengguna Baru Usai WhatsApp Down"
[Gambas:Video 20detik]
(agt/fyk)