Puluhan Smartphone Wartawan Diretas Spyware Pegasus

Puluhan Smartphone Wartawan Diretas Spyware Pegasus

Anggoro Suryo Jati - detikInet
Selasa, 22 Des 2020 17:37 WIB
People are seen as silhouettes as they check mobile devices whilst standing against an illuminated wall bearing WhatsApp Incs logo in this arranged photograph in London, U.K., on Tuesday, Jan. 5, 2016. WhatsApp Inc. offers a cross-platform mobile messaging application that allows users to exchange messages. Photographer: Chris Ratcliffe/Bloomberg via Getty Images
Foto: Chris Ratcliffe/Bloomberg
Jakarta -

Peneliti di Citizen Lab menemukan bukti adanya peretasan terhadap lusinan smartphone milik wartawan yang disusupi oleh spyware buatan NSO yang terkenal, yaitu Pegasus.

Selama setahun ini, seorang reporter asal London, Inggris, bernama Rania Dridi dan setidaknya 36 jurnalis lain, produser, juga eksekutif kantor berita Al Jazeera menjadi target dari spyware 'zero click' yang memanfaatkan celah keamanan di Apple iMessage pada iPhone mereka.

Disebut zero click karena spyware ini bisa menyusup ke perangkat korban, meski si korban tak mengklik link apa pun, demikian dikutip detikINET dari Techcrunch, Selasa (22/12/2020).

Citizen Lab, peneliti internet dari University of Toronto, menemukan fakta ini setelah mereka diminta untuk menyelidiki dugaan peretasan terhadap ponsel milik jurnalis Al Jazeera bernama Tamer Almisshal.

Kemudian dalam hasil penyelidikan tersebut, Citizen lab menyebut bahwa smartphone milik si wartawan itu terinfeksi oleh spyware Pegasus, yang dibuat oleh NSO asal Israel.

Ponsel milik Almisshal tersebut antara Juli sampai Agustus terhubung dengan server yang dikenal sebagai pusat kontrol dari Pegasus. Dari situ pun terungkap kalau spyware itu memanfaatkan celah yang ada di iMessage.

Dari catatan yang ditemukan, Pegasus bisa diam-diam merekam memakai mikrofon dan panggilan telepon yang dilakukan di ponsel tersebut. Juga bisa memotret lewat kamera ponsel, mengakses password, dan juga memantau lokasi ponsel.

Citizen Lab menyebut aksi peretasan ini kemungkinan dilakukan oleh setidaknya empat orang konsumen NSO, termasuk pemerintahan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.

Peneliti pun menemukan bukti kalau dua orang konsumen NSO lain meretas empat ponsel lain milik pegawai Al Jazeera. Namun tak disebutkan negara mana yang 'memesan' peretasan tersebut.

Kisah Dridi, wartawan televisi Al Araby yang berbasis di London, tak kalah mengerikan. Peneliti Citizen Lab menyebut ponsel Dridi diretas oleh pemerintah UAE.

Dridi mengaku kalau ponselnya kemungkinan diretas karena ia berhubungan dengan dengan satu orang penting di pemerintahan UAE.

Tipe ponsel yang diretas, baca selengkapnya di halaman berikut