Ini Spyware WhatsApp Paling Mengerikan: Pegasus

Bahaya Serangan Cyber

Ini Spyware WhatsApp Paling Mengerikan: Pegasus

Fino Yurio Kristo - detikInet
Sabtu, 28 Nov 2020 17:00 WIB
Ilustrasi perempuan menggunakan ponsel
Ilustrasi. Foto: iStock
Jakarta -

Spyware atau software mata-mata yang satu ini memang bukan sembarangan. Sampai-sampai pihak WhatsApp mengajukan gugatan hukum pada pembuatnya. Barangkali sudah ada yang bisa menebak? Ya, spyware itu adalah Pegasus buatan perusahaan asal Israel, NSO Group.

Eksistensi Pegasus diketahui pada Agustus 2016 saat kabarnya ia digunakan untuk memata-matai aktivis di Uni Emirat Arab. Pegasus juga dikaitkan dengan kematian reporter Washington Post, Jamal Khashoggi dan untuk melacak gembong narkoba Meksiko, Joaquin Guzman.

Spyware yang dibicarakan di sini menginfeksi lewat fitur telepon WhatsApp pada versi Android maupun di iOS. Hebatnya, meski menginfeksi lewat jalur fitur telepon WhatsApp, spyware tetap bisa menyusup meski telepon yang masuk itu tak dijawab korban. Sungguh sebuah kejahatan siber yang mengerikan.

Bahkan dalam sejumlah kasus, panggilan telepon yang tak terjawab itu bisa hilang dari log sehingga pengguna WhatsApp tidak pernah menyadari adanya telepon tersebut. Spyware itu dapat mengakses beragam informasi pribadi pengguna, dari pesan teks sampai data lokasi.

Kemudian, ia dapat menghapus bukti eksistensi dirinya. Besar kemungkinan, para target tidak mengetahui bahwa smartphone mereka telah dimata-matai. Profesi korbannya bermacam, dari mulai aktivis kemanusiaan, jurnalis, pengacara dan sejumlah profesi lain.

Dikutip detikINET dari Guardian, Sabtu (28/11/2020) Pegasus terdeteksi digunakan di 45 negara termasuk Arab Saudi, Meksiko,Bahrain, Kazakhstan dan Uni Emirat Arab. NSO mengatakan mereka juga mendapat kontrak di 21 negara Uni Eropa.

Berkantor pusat di Gerzlia, Israel, NSO Group didirikan oleh Imri Lavie dan Shalev Hulio yang juga pemegang saham. Hulio pernah bekerja di militer dan Lavie dulunya pegawai pemerintah Israel.

NSO pun sering dikait-kaitkan dengan pemerintah Israel. Sedikitnya tiga dari karyawannya bekerja di Unit 8200, lembaga keamanan pemerintah Israel semacam National Security Agency di Amerika Serikat. Bahkan ada pula yang bekerja di Mossad.

"Kami menjual Pegasus dalam rangka mencegah kriminal dan teror," sebut Hulio. Ia menyatakan lembaga intelijen mendatangi mereka karena kurang mampu lagi melacak data penting dari smartphone versi baru. Jadi Pegasus menurut mereka bukan untuk mengacak-acak WhatsApp.

Halaman selanjutnya: NSO bantah serang WhatsApp...