Saat saya menulis artikel review ini, Huawei Pura 80 Ultra sudah setengah tahun diluncurkan secara resmi di Indonesia, tepatnya pada 17 September 2025 lalu. Tapi saat ini Huawei Pura 80 Ultra, masih tetap merupakan ponsel kelas atas Huawei, dan kualitas kameranya menyabet gelar kamera terbaik versi DXOMark yang masih bertahan saat artikel ini ditulis.
Modul kamera dan lensa dari Huawei ini boleh dibilang lengkap dan rata-rata kualitas hardwarenya terbaik saat ini. Modul kamera widenya bertipe 1 inci dengan resolusi 50 megapixel dan lensanya ekuivalen 23mm dengan bukaan variabel: f/1.6-f/4.
Dengan bukaan yang variabel, kualitas foto bisa dimaksimalkan, misalnya kalau ingin latar belakang blur atau kondisi sangat gelap, kita bisa menggunakan f/1.6, tapi kalau untuk memotret pemandangan yang luas, dan kondisi cahaya terang, maka f/4 lebih baik karena hasilnya akan lebih tajam dari tengah sampai tepi-tepi foto, dari depan sampai belakang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lensa ultrawide Huawei ekuivalen 13mm, termasuk yang sangat lebar. Resolusinya juga besar, 40 megapixel dengan bukaan f/2.2.
Yang unik dan hanya ditemukan di ponsel Huawei adalah lensa telefotonya. Huawei memberi nama 'Switchable dual telephoto.' Artinya, lensa telefotonya ada dua dan menggunakan image sensor yang sama.
Yang pertama ekuivalen 83mm dengan bukaan f/2.4 dengan resolusi 50 megapixel, dan yang kedua ekuivalen 212mm f/3.6 periscope telefoto atau 9.4x optical zoom dengan resolusi 12.5 megapixel.
Teknologi ini eksklusif untuk tipe ponsel ini saja. Modul lensa telefoto di kamera ponsel pada umumnya dipasangkan dengan image sensor yang berbeda, sehingga perbedaan kualitasnya cukup signifikan. Untuk Huawei Pura 80 Ultra ini, image sensor untuk telefotonya sangat besar, type 1/1.28 inci, yang sampai saat ini termasuk paling besar untuk lensa tele.
Foto: Enche Tjin |
Kualitas Gambar
Pertama kali saya melihat hasil gambarnya, saya cukup kaget karena gambar dari kameranya terlihat realistik. Hasil dari kameranya menghasilkan gambar yang detail tapi tidak sampai terlalu tajam, sehingga terlihat masih alami. Mungkin ini berkat image sensor yang besar dan prosesor yang canggih.
Sekitar 10 tahun lalu, Huawei bekerja sama dengan Leica untuk proses gambarnya. Setelah kontrak selesai, Huawei menggunakan prosesor Xmage, yang dikembangkan sendiri.
Foto: Enche Tjin |
Kita bisa memilih berbagai profil gambar racikan Xmage, dari Asli, Hidup, Cerah dan Mono. Keempat-empatnya bagus. Kalau ingin hasil seperti yang dilihat mata, maka Asli paling menyerupai. Favorit saya adalah yang Hidup, hasilnya lebih dramatis karena lebih kontras, bagian shadow lebih gelap dan ada sedikit vinyet, sehingga subjek lebih menonjol. Profil hitam putih hanya ada satu, hasilnya sesuai selera, kontrasnya agak tinggi, tapi tidak terlalu tinggi sehingga detail halus masih bisa terlihat dengan jelas.
Dari kiri atas searah jarum jam: Asli, Hidup, Cerah, Mono. Foto: Enche Tjin |
Foto: Enche Tjin |
Foto: Enche Tjin |
Foto: Enche Tjin |
Profil gambar Xmage di ponsel ini tidak banyak, hanya empat. Tapi menurut saya, masing-masing profil cukup berkarakter dan akan terpakai di kondisi dan situasi yang sering kita jumpai. Sayangnya kita tidak dapat memodifikasi profil-nya, misalnya tidak bisa menambah kontras/saturasi dan lain lain, karena profilnya sifatnya tetap.
Untuk mode foto portraitnya, ada pilihan efek untuk memilih efek simulasi blur, ada mode cantiknya juga yang bisa diatur tingkat kelembutan kulit wajahnya.
Foto: Enche Tjin |
Foto: Enche Tjin |
Hasil dari foto portrait, saya perhatikan cukup rapi seleksi rambutnya, tapi saya tidak menemukan bagaimana cara mengatur intensitas blur latar belakangnya. Secara default, blur latar belakang cukup kuat, sehingga antara subjek dan background, perbedaan ketajamannya bagi saya terlalu besar. Ketika subjek terlalu tajam, latar belakang terlalu blur, gambar jadi seperti tempelan.
Untuk mengatur hasil bukaan yang lebih alami, kita bisa menggunakan mode bukaan lensa, di sini kita bisa pilih kekuatannya secara virtual. Angka yang semakin kecil membuat latar belakang/depan semakin blur.
Foto: Enche Tjin |
Yang menarik kita juga bisa atur bukaan fisik/hardware lensanya. Di kamera utamanya, bukaannya tidak fix/tetap seperti kamera ponsel pada umumnya. Kita bisa pilih dari bukaan f/1.6 sampai f/4. Pakai f/1.6 untuk kondisi gelap dan kalau ingin memisahkan subjek dari latar belakang, dan f/4 kalau kondisi terang dan atau ingin pemandangannya tajam semua.
Dengan bukaan f/1.6, jika kita fokus ke tumbuhan di depan, latar belakang menjadi blur. Foto: Enche Tjin |
Dengan bukaan f/4, ketajaman merata dari depan sampai belakang. Foto: Enche Tjin |
Seperti kamera ponsel pada umumnya, Huawei juga punya mode malam. Kalau dipakai, kamera akan mengambil banyak foto dan kemudian menggabungkannya menjadi satu. Hasil foto terlihat terang dan jelas meskipun kondisi sudah malam atau kurang cahaya.
Saat memotret dengan mode malam, kamera akan meminta waktu selama dua detik dan selanjutnya akan memproses foto. Hasil fotonya terlihat tajam, detailnya masih masih terjaga dengan baik di bagian terang dan gelap. Kinerja computational photography ini terasa cukup cepat tapi kalau dilakukan berulang-ulang, kamera akan terasa agak panas.
Foto: Enche Tjin |
Foto: Enche Tjin |
Foto: Enche Tjin |
Crop dari foto di atas. Foto: Enche Tjin |
Desain
Desain Huawei Pura di bagian belakang ponsel terlihat premium dengan material seperti kaca yang memantulkan cahaya. Sayangnya, sidik jari juga mudah terekam. Bagian kameranya sedikit menonjol keluar berbentuk segitiga dan berat ponsel sekitar 233 gram, boleh dibilang cukup berat.
Dari 2018 sampai 2022 saya menggunakan ponsel Huawei P20 Pro yang menurut saya kameranya sangat revolusioner, saya masih punya ponsel ini dan sempat saya bawa memotret di banyak tempat. Mencoba Pura ini membangkitkan rasa nostalgia, karena desain user interfacenya masih mirip, seperti tipografi/fontnya, dan desain ikon-ikon-nya. Cuma sekarang pilihan menu-nya lebih banyak.
Meskipun banyak yang saya suka dari ponsel ini, terutama kualitas kameranya, cuma ada beberapa hal yang saya kurang suka dan itu terletak lebih ke desainnya. Misalnya ukuran ponsel agak besar, terutama di modul kameranya. Tombol on-off ponsel juga agak dalam, tidak menonjol seperti tombol volume, jadi perlu sedikit usaha untuk menyalakan atau mematikan ponsel, dan desain tepi ponsel yang agak melengkung membuatnya agak riskan slip
Sistem Operasi
Salah satu yang perlu dipertimbangkan sebelum membeli ponsel Huawei ini adalah tentang kompatibilitasnya dengan aplikasi Google. Unit yang saya review ini menggunakan sistem operasi EMUI, yang basisnya Android, maka itu sekilas, desainnya mirip dengan ponsel Android lainnya seperti ponsel Samsung, Oppo, Xiaomi dan sebagainya.
Tapi yang beda adalah tidak ada Google Play store-nya. Toko aplikasi di ponsel ini menggunakan Huawei App Gallery, karena Google Mobile services dilarang digunakan di perangkat Huawei oleh pemerintah Amerika Serikat sejak 2019.
Sejak itulah Huawei mengembangkan aplikasi-aplikasinya sendiri dan bekerja sama dengan pembuat app lain. Sebagai pengganti Google search dan Google map, ada app yang namanya Petal yang dalam bahasa Indonesia artinya kelopak bunga.
Kalau teman-teman mau akses ke Google Playstore dan aplikasi-aplikasi Google seperti Gmail, Google Map, Google Drive dan lain-lain, ada solusinya yaitu pakai perantara seperti Gbox. Kinerja aplikasi melalui Gbox ini bervariasi, ada yang lancar dan ada yang lambat.
Foto: Enche Tjin |
Foto: Enche Tjin |
Foto: Enche Tjin |
Kesimpulan
Tidak dapat dipungkiri bahwa Huawei Pura 80 Ultra memiliki hardware kamera dan lensa yang sangat berkualitas. Dengan ukuran image sensor yang besar untuk lensa wide dan telefotonya, memotret di kondisi terang, gelap, dekat atau jauh dapat dihasilkan dengan hasil yang bagus dan realistik.
Penggemar fotografi perlu melirik apa yang ditawarkan Huawei lewat ponsel ini. Yang perlu diperhatikan adalah perangkat ini tidak mendukung aplikasi Google, sehingga kurang begitu cocok bagi pengguna yang mengandalkan aplikasi-aplikasi dari Google. Tapi bagi yang ingin mendapatkan pengalaman berbeda, menurut saya seharusnya bukan menjadi masalah besar karena aplikasi-aplikasi yang tersedia tidak berbeda jauh dan tidak kalah kualitas dan fungsinya.
Foto: Enche Tjin |
Foto: Enche Tjin |
Foto: Enche Tjin |
Foto: Enche Tjin |
Foto: Enche Tjin |
(rns/rns)














Crop dari foto di atas. Foto: Enche Tjin






