Muslim Pro, Tuduhan Jual Data dan Ancaman Blokir Kominfo

Round-up

Muslim Pro, Tuduhan Jual Data dan Ancaman Blokir Kominfo

Tim detikINET - detikInet
Sabtu, 21 Nov 2020 08:00 WIB
Muslim Pro
Foto: Adi Fida Rahman/detikINET
Jakarta -

Muslim Pro tengah diterpa isu tidak sedap. Aplikasi favorit umat Islam di seluruh dunia ini tersandung isu penjualan data pengguna ke Militer Amerika Serikat (AS) yang melahirkan ancaman pemblokiran dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) RI.

Kabar ini bermula dari laporan laman Vice Motherboard terkait bagaimana militer AS mendapatkan data pergerakan orang di seluruh dunia. Rupanya ada dua metode meraih data tersebut.

Pertama melalui perusahaan bernama Babel Street yang menyediakan layanan bernama Locate X. Layanan tersebut dibeli untuk membantu Komando Operasi Khusus AS (USSOCOM), divisi militer yang ditugaskan untuk kontraterorisme, pemberontakan, dan pengintaian khusus, dalam operasi pasukan khusus di luar negeri.

Kedua mendapatkan data melibatkan perusahaan bernama X-Mode. Perusahaan ini memperoleh data lokasi langsung dari pengembang aplikasi kemudian menjual data tersebut ke kontraktor, dan dengan ekstensi ke militer AS.

Muslim Pro Bantah Menjual Data Pengguna Aplikasinya ke Militer Amerika SerikatMuslim Pro Bantah Menjual Data Pengguna Aplikasinya ke Militer Amerika Serikat Foto: ABC Australia

Sebagai imbalannya, X-Mode membayar biaya kepada pengembang aplikasi berdasarkan jumlah pengguna yang dimiliki. Misalnya, sebuah aplikasi dengan 50.000 pengguna aktif harian di AS akan menghasilkan pengembang USD 1.500 atau Rp 21,3 juta sebulan.

Motherboard mengungkap salah satu aplikasi yang menyetor data penggunanya ke X-Mode adalah Muslim Pro. Terpantau aplikasi Muslim Pro versi Android maupun iOS sama-sama mengirimkan data lokasi ke X-Mode.

Mirisnya tidak hanya data lokasi pengguna saja yang diberikan. Muslim Pro menyetorkan data nama jaringan, stempel waktu, model ponsel yang digunakan.

Tuai Ajakan Boikot

Usai laporan Motherboard beredar seketika menciptakan kehebohan. Wajar saja, Muslim Pro yang dituding jual data pengguna adalah salah satu aplikasi yang banyak digunakan umat Islam di seluruh dunia. Hingga sekarang aplikasi buatan Bitsmedia Pte Ltd dipakai lebih 100 juta pengguna yang tersebar seantero Bumi.

Jelas kabar penjualan data ini tidak diterima oleh banyak pihak. Ajakan boikot dan bahkan untuk meng-uninstall Muslim Pro berkumandang.

Direktur Eksekutif Dewan Hubungan Amerika-Islam (CAIR) Nihad Awad mendesak agar dilakukan penyelidikan terkait dugaan jual-beli data pengguna aplikasi Muslim Pro ke Militer AS.

"Kami mendesak agar Kongres menyelidiki lebih dalam dan untuk memastikan bahwa lembaga pemerintah atau pemain lain tidak menyalahgunakan data atau memiliki akses ilegal yang melanggar kepercayaan dan privasi pengguna," ujar Awad dikutip Salaam Gateway.

Bahkan, CAIR mengajak umat Islam untuk berhenti menggunakan aplikasi Muslim Pro dan aplikasi lainnya sampai pemilik dari layanan tersebut menawarkan transparansi dan berjanji mengakhiri memanfaatkan data pengguna oleh pemerintah.

CAIR juga akan mengajukan petisi kepada Kongres untuk mengusut tuntas persoalan jual-beli data pengguna Muslim Pro ke Militer AS itu.

"Kami kejar masalah ini sampai kita mendapatkan jawabannya," tegas Awad.

Sementara di Tanah Air, suara kritis terkait kabar penjualan data pengguna oleh Muslim Pro datang dari Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil. Lewat akun Instagramnya, dia mengungkapkan kekecewaannya terhadap penyalahgunaan data privasi aplikasi Muslim Pro.

Ridwan Kamil sendiri mengaku sebagai salah satu pengguna dari aplikasi Muslim Pro. Ia menggunakan Muslim Pro karena ia menilai layanan tersebut bagus.

"Namun jika disalahgunakan, tentunya itu melanggar hal fundamental, yaitu privasi data dan lokasi pengguna," tulis Ridwan Kamil di akun Instagram yang diposting hari ini, Kamis (19/11/2020).

[Gambas:Instagram]

Pria yang disapa Kang Emil juga sudah mengetahui bahwa Muslim Pro sudah membantah laporan mengenai jual-beli data pengguna ke tangan Militer AS, di mana itu dilakukan bukan oleh Muslim Pro, melainkan oleh pihak ke-3 yang terikat kontrak dengan aplikasi ini.

"Selama hubungan dengan pihak ke-3 terduga ini belum diputus, maka kekhawatiran penyalahgunaan itu masih ada," ungkap Ridwan Kamil.

Sebagai pemimpin daerah yang ingin melindungi warganya dan di sisi lain belum ada kepastian transparansi dari pihak Muslim Pro. Ridwan Kamil mengajak agar berpindah ke aplikasi lainnya.

"Sementara mari pindah ke apps yang lain, sampai ada kepastian terkait perlindungan privasi pengguna. Namun, apapun itu, semua kembali ke pilihan masing-masing," ucap pria berkacamata ini.

Muslim Pro Membantah

Setelah digemparkan dengan laporan jual-beli data pengguna, Muslim Pro langsung buka suara dan membatas kabar tersebut.

Muslim Pro menyatakan bahwa pemberitaan tersebut tidak benar. Muslim Pro telah berkomitmen untuk melindungi data privasi para penggunanya.

"Laporan media yang beredar bahwa Muslim Pro telah menjual data pribadi penggunanya ke Militer AS. Ini SALAH dan TIDAK BENAR," tegas mereka pada Kamis (19/11/2020).

Selang beberapa hari kemudian Muslim Pro kembali meluruskan kabar yang beredar. Mereka menjabarkan secara detail terkait data yang diolahnya.

1. Data apa yang dikumpulkan oleh Muslim Pro dan mengapa dibutuhkan?

Kami mengumpulkan, memproses, dan menggunakan informasi yang disediakan dan diberikan oleh para pengguna saat mengakses aplikasi dan layanan kami, misalnya seperti informasi yang Anda masukkan terkait dengan penggunaan aplikasi. Kami menggunakan informasi yang tersedia untuk meningkatkan layanan, mendukung riset lebih mendalam, serta mengembangkan aplikasi.

Tindakan ini mungkin juga termasuk menganalisis data agar kami dapat lebih memahami kebiasaan pengguna dan meningkatkan fungsi layanan secara menyeluruh. Data lokasi digunakan untuk menghitung ketepatan waktu salat, arah Kiblat, dan juga fitur lainnya. Tindakan tersebut juga dilakukan untuk membantu merencanakan dan merancang berbagai fitur, seperti halnya dalam meningkatkan pengalaman pengguna secara keseluruhan.

Kami sepenuhnya berkomitmen untuk menghormati dan melindungi privasi pengguna sesuai dengan undang-undang dan peraturan privasi data global seperti GDPR dan CCPA. Kami juga selalu menerapkan langkah-langkah pengamanan standar industri untuk memastikan seluruh data terjaga dan aman. Ini karena kepercayaan jutaan umat dan para pengguna setiap hari di Muslim Pro adalah segalanya bagi kami.

Untuk info lebih detil, silakan mengacu pada Kebijakan Privasi kami di sini.

2. Mengapa Muslim Pro perlu berbagi data dengan para mitra?

Seperti halnya aplikasi lainnya, mengembangkan aplikasi religius yang berkualitas tentunya membutuhkan waktu dan sumber daya. Kami perlu berkolaborasi dengan mitra-mitra teknologi terpilih agar dapat terus memberikan layanan terbaik bagi para pengguna dan mengembangkan kualitas aplikasi.

Bagi aplikasi seperti Muslim Pro, data yang dibagi kepada para mitra digunakan untuk tujuan umum seperti periklanan, di mana ini adalah sumber pemasukan utama agar kami dapat memberikan layanan gratis kepada para pengguna. Kami melakukan hal ini sepenuhnya dengan mematuhi semua hukum dan aturan yang berlaku. Kami juga menerapkan kebijakan tata kelola data yang ketat untuk memastikan data pengguna selalu terlindungi.

3. Apakah Muslim Pro berbagi data pribadi pengguna dengan mitranya?

Dalam kondisi apapun kami tidak berbagi informasi pribadi sensitif para pengguna, seperti halnya nama, nomor telepon, atau email. Data yang dibagi bersama para mitra adalah data anonim, yang berarti data tersebut bukanlah data yang terkait dengan individu tertentu.

4. Siapa pihak ketiga yang berbagi data dengan Muslim Pro?

Kami bekerja sama dengan berbagai pihak ketiga terpilih dalam industri ini, termasuk sosial media, analisis data, dan mitra periklanan yang secara umum membantu mengembangkan produk dan layanan kami - tentunya semua dilakukan dengan konsen (izin) dari para pengguna kami.

Muslim ProMuslim Pro Foto: Adi Fida Rahman/detikINET

5. Apakah data saya aman di tangan Muslim Pro?

Ya. Kami sepenuhnya berkomitmen untuk menghormati dan melindungi privasi pengguna sesuai dengan undang-undang dan peraturan privasi data global seperti GDPR dan CCPA.

Kami juga selalu menerapkan langkah-langkah pengamanan standar industri untuk memastikan seluruh data terjaga dan aman. Ini karena kepercayaan jutaan umat dan para pengguna setiap hari di Muslim Pro adalah segalanya bagi kami.

Kami akan terus memastikan keamanan data, termasuk juga melalui audit oleh para pakar dari pihak ketiga yang independen.

Kominfo Tak Segan Blokir Muslim Pro

Kasus dugaan jual-beli data pengguna ke militer AS, membuat Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) bergerak meminta penjelasan langsung dari aplikasi Muslim Pro. Bila tidak ada penjelasan, Kominfo mungkin akan memblokir Muslim Pro sesuai aturan yang berlaku.

Disampaikan Juru Bicara Kementerian Kominfo Dedy Permadi bahwa pemerintah telah mengirimkan surat kepada Muslim Pro pada Selasa (19/11). Aplikasi besutan Bitsmedia itu diberi waktu tiga hari untuk memberikan klarifikasinya ke pemerintah RI.

"Kementerian Kominfo hari ini (Selasa, 19 November 2020-red) mengirimkan surat kepada pihak Muslim Pro untuk meminta penjelasan terkait dugaan insiden penjualan data pribadi penggunanya. Jawaban atas surat tersebut akan menentukan langkah Kominfo selanjutnya," ujar Dedy kepada detikINET.

"Jika pihak Muslim Pro tidak membalas dalam 3X24 jam, maka Kementerian Kominfo akan melakukan pemutusan akses (blokir) untuk mencegah potensi insiden yang lebih besar," tegas Dedy.

(afr/afr)