Tips Hindari Pencurian Data Pribadi: Bijak Bermedsos

Tips Hindari Pencurian Data Pribadi: Bijak Bermedsos

Tim - detikInet
Kamis, 09 Jul 2020 10:56 WIB
Sama Seperti di Indonesia, Pencurian Data Pribadi Juga Terjadi di Australia
Ilustrasi. Foto: ABC Australia
Jakarta -

Pakar forensik digital Ruby Alamsyah memberikan tips untuk menghindari pencurian data pribadi. Yaitu dengan bijak menggunakan media sosial. Lho kok?

Menurut Ruby, media sosial adalah salah satu pintu bocornya data pribadi. Jadi pengguna sebaiknya memastikan semua konten yang diunggah ke media sosial tak mengandung data pribadinya. Bahkan jenis ponsel yang dipakai pun sebenarnya adalah data yang tabu untuk disebar di media sosial.

"Justru kita bangga jika kita memposting di media sosial lokasi kita dan jenis HP yang kita pergunakan dalam foto yang akan kita posting. Itu merupakan kesalahan yang fatal yang bisa dipergunakan oleh pihak-pihak tak bertanggung jawab untuk menggunakan data pribadi kita," jelas Ruby.

Saran Ruby selanjutnya, ketika hendak memposting foto di media sosial, disarankan foto dan dokumen tersebut di-convert. Tujuannya untuk mengubah metadata yang ada di foto atau dokumen tersebut. Jadi foto dan dokumen yang dikirimkan ke media sosial tersebut bukan asli dari HP.

Jika asli dari HP maka meta data yang terdapat informasi seperti lokasi, jenis HP, software yang dipakai, operator yang dipergunakan dan berapa megapixel kamera yang dipergunakan, dapat dengan mudah untuk dibaca.

"Para pihak yang tak bertanggung jawab dapat melihat meta data dari foto yang kita up load di sosial media dengan sangat mudah. Jadi kalau mau memposting foto pastikan meta data berubah. Ketika kita mengirim foto melalui FB dan WA, semua data tersebut sudah hilang. Karena WA dan FB melakukan perubahan sehingga bukan foto asli yang ditampilkan," ungkap Ruby.

Selain itu Ruby juga menyarankan agar pemerintah dapat segera menyelesaikan RUU Perlindungan Data Pribadi. Dengan adanya UU Perlindungan Data Pribadi, penegakkan hukum akan lebih tepat. Sehingga dapat membuat jera para pelaku pencurian data pribadi. Saat ini Indonesia hanya memiliki UU ITE. Dalam UU ITE, pencurian data pribadi melalui penyelenggara transaksi elektronik hanya delik aduan.

"Karena delik aduan maka tidak ada lembaga yang mau melaporkan pencurian data pribadi pelanggannya ke polisi. Lapor ke polisi berarti mengakui adanya data bocor," pungkasnya.