Rabu, 20 Nov 2019 12:26 WIB

Ada 129 Juta Serangan Siber di Indonesia, Pengamat: Wajar...

Anggoro Suryo Jati - detikInet
Foto: DW (News) Foto: DW (News)
Jakarta - Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) menyebut ada 129 juta serangan siber di Indonesia selama Januari-September 2019. Menurut pengamat, hal tersebut sebenarnya wajar saja.

Hal ini diutarakan Alfons Tanujaya, pengamat keamanan siber dari Vaksincom. Menurutnya jumlah serangan sebanyak itu secara umum terbilang wajar, utamanya karena memang pengguna internet di Indonesia yang sangat tinggi, bahkan masuk ke dalam lima besar pengguna internet terbanyak di dunia.

Kalau diasumsikan sebulan ada 10 sampai 12 juta serangan, dibandingkan dengan jumlah pengguna internet di Indonesia yang mencapai 140-an juta (menurut Internet World Stats), atau bahkan 171 juta (data APJII tahun 2018), maka sebenarnya jumlah serangan itu terbilang wajar.

"Serangan malware itu satu komputer terinfeksi bisa menyebabkan ribuan sampai puluhan ribu serangan. Jadi kalau 10 juta serangan tidak berarti 10 juta perangkat terinfeksi," ujar Alfons ketika dihubungi detikINET.

"Kalau asumsinya 1 komputer terinfeksi melakukan 5.000 serangan. Maka 10 juta serangan kira-kira 2.000 perangkat terinfeksi," tambahnya.


Inilah yang membuat Alfons menyatakan bahwa jumlah serangan siber yang terjadi itu terbilang wajar. Namun ia tak memungkiri bahwa tingginya penggunaan aplikasi bajakan di Indonesia ini kondisinya memprihatinkan, menyebut pentingnya mengedukasi pengguna, baik pengguna ponsel maupun komputer.

"Kebiasaan berkomputer yang baik juga penting seperti membackup data penting dan menyimpan secara offline, mengamankan kredensial dengan baik seperti melindungi dengan TFA (two factor authentication-red). Dan menggunakan aplikasi anti Ransomware yang jika dienkripsi tinggal klik data akan kembali semua bisa membantu mengamankan dari ancaman," jelas Alfons.

Seperti diberitakan sebelumnya, BSSN menyebut ada 129 juta serangan siber di Indonesia selama Januari-September 2019. Serangan sibernya itu didominasi malware.

Menurut Direktur Pengendalian Informasi, Investigasi dan Forensik Digital BSSN Brigjen TNI Bondan Widiawan, hal itu terjadi karena kesadaran masyarakat akan serangan siber cukup rendah.

"Pemicunya bisa dari operating system (OS) bajakan, tidak update OS, khususnya bagi pengguna Microsoft," ujar Bondan saat ditemui di Pusdikhub TNI AD, Cimahi, Selasa (19/11/2019).



Simak Video "Dear Pengguna Android, Aplikasi Ini Bisa Bikin Rugi Miliaran Rupiah!"
[Gambas:Video 20detik]
(asj/fay)