Meluncur!
Perbaikan Sementara Untuk Browser 'Rubah Api'
- detikInet
Jakarta -
Adanya celah keamanan pada web browser Firefox Mozilla membuat si 'rubah api' harus mengeluarkan perbaikan sementara demi mengamankan para penggunanya.Celah ini memungkinkan hacker menjalankan program 'jahat' pada komputer seseorang. Celah tersebut berhasil diungkap seorang peneliti keamanan Tom Ferris Kamis (10/9/2005) silam. Menurut Mike Schroepfer, Direktur Teknik Mesin Mozilla mengatakan, masalah ini berkaitan dengan bagaimana browser Firefox dan Mozilla menangani International Domain Name (IDN). IDN merupakan nama domain yang menggunakan karakter bahasa lokal. Perbaikan yang dilakukan menutup fitur dukungan alamat situs."Perbaikan ini hanya sementara. Kami sedang mengerjakan pembenahan yang permanen dan membuat fitur IDN dapat ditampilkan kembali," ujar Schroepfer seperti dilansir CNET News yang dikutip detikinet Senin (12/9/2005).Dengan menutup dukungan fitur IDN akan berdampak pada sebagian pengguna Firefox dan Mozilla yang memang menggunakan nama domain spesial tertentu, imbuhnya. Karena penutupan IDN ini dirasa tidak menimbulkan masalah yang berarti, Mozilla menyarankan para pengguna Firefox agar sebaiknya menutup saja fitur IDN. "Untungnya kami tidak menemukan orang yang memanfaatkan celah ini, tetapi hal ini memang sangat kritis jika nanti benar-benar terjadi serangan. Oleh karena itu kami merekomendasikan produk sementara ini untuk di-download," tandas Schroepfer.Mozilla sedianya akan membenahi celah ini lewat produk beta 2 Firefox 1.5, yang merupakan peluncuran selanjutnya dari web browser open source tersebut. Sementara itu Beta 2 akan dirilis pada tanggal 5 Oktober dan peluncuran finalnya dijadwalkan pada tahun depan.Selain memberikan perbaikan yang dapat di-download, situs Mozilla juga menawarkan instruksi manual untuk menutup fitur IDN. Meski Firefox punya segudang 'kesulitan' soal keamanan browsernya namun beberapa celah keamanan serius pada browser 'rubah api' tersebut berhasil dibenahi sejak produk itu meluncur pertama kali. Belum lagi para ahli yang mengatakan, tidak ada browser yang aman.
(ien/)