Demikian ditegaskan Sutanto Hartono, Presiden Direktur Microsoft Indonesia dalam jumpa pers perdananya yang berlangsung di pusat penjualan elektronik Mangga Dua, Jakarta, Selasa (2/3/2010).
Menurutnya, ancaman ini bakal meningkatkan potensi risiko untuk pencurian data (phishing) ketika konsumen mengakses internet.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ancaman lainnya, lanjut Sutanto, penggunaan software bajakan mengakibatkan 43% berisiko lebih besar mengalami kegagalan sistem dan 73% berisiko lebih besar kehilangan atau kerusakan data.
"Bahkan 55% di antaranya tidak bisa memulihkan data-data yang rusak," tukasnya mengutip data dari lembaga riset Harrison Group tersebut.
Lukman Susetio, Windows Group Marketing Manager Microsoft Indonesia menambahkan, aksi pencurian password di internet semakin lama semakin merajalela.
Bahkan dalam sebuah studi terungkap bahwa jika dibandingkan pada kuartal satu 2008 dan kuartal dua 2009, pertumbuhan aksi pencurian password dan mata-mata di internet melonjak hampir 500%.
"Negara dengan tingkat pembajakan tinggi cenderung lebih rentan kena serangan malware. Sebab tidak melakukan update terutama untuk security patch," pungkas Lukman. (ash/faw)