Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Kerak Bumi di Bawah Italia Seperti Terbuka, Ilmuwan Selidiki Penyebabnya

Kerak Bumi di Bawah Italia Seperti Terbuka, Ilmuwan Selidiki Penyebabnya


Rachmatunnisa - detikInet

Penyebab gempa bumi bisa berasal dari berbagai macam faktor. Salah satu penyebab gempa bumi yang paling umum adalah pergeseran kerak bumi (lempengan bumi).
Ilustrasi pergeseran kerak Bumi. Foto: Istimewa
Jakarta -

Kerak Bumi di bawah Italia ternyata mengalami proses yang oleh ilmuwan dianalogikan seperti 'membuka ritsleting'. Fenomena ini terjadi jauh di bawah Pegunungan Apennini, rangkaian pegunungan yang membentang sekitar 1.200 kilometer di sepanjang Semenanjung Italia.

Bukan berarti Italia benar-benar sedang terbelah menjadi dua. Istilah 'unzipping' atau membuka ritsleting digunakan untuk menggambarkan proses geologi sangat lambat ketika bagian bawah kerak Bumi dan lapisan batuan di bawahnya perlahan terkelupas dan tenggelam ke dalam mantel.

Proses tersebut dikenal sebagai delaminasi. Penelitian terbaru menunjukkan proses ini mungkin membantu menjelaskan teka-teki geologi Apennini, mengapa wilayah tersebut bisa mengalami tekanan dan tarikan secara bersamaan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

Apennini selama jutaan tahun terbentuk akibat pergerakan lempeng tektonik yang saling berinteraksi. Pegunungan terbentuk ketika kerak Bumi mengalami tekanan dan penebalan. Namun, kondisi di Italia tidak sesederhana itu.

Di satu sisi, bagian depan Apennini masih mengalami pemendekan atau tekanan. Di sisi lain, bagian dalam pegunungan justru mengalami peregangan. Artinya, dua proses yang tampaknya berlawanan terjadi dalam sistem yang sama.

Mengutip Science Alert, peneliti yang dipimpin Stefano Tavani dari University of Florence mencoba memecahkan teka-teki tersebut dengan menggabungkan berbagai data, mulai dari catatan gempa, pengukuran GPS, pengamatan radar satelit, hingga pemetaan batas antara kerak dan mantel Bumi yang dikenal sebagai Moho.

Dari berbagai data tersebut, muncul pola yang menarik. Para peneliti menemukan struktur tertentu yang membentang lebih dari 500 kilometer di bawah Apennini. Di wilayah ini, batas kerak-mantel dari sisi Laut Tyrrhenia dan sisi Adriatik tampak saling tumpang tindih.

Menurut interpretasi penelitian, struktur tersebut merupakan petunjuk adanya bagian bawah kerak yang sedang terkelupas dari lapisan di atasnya. Bayangannya seperti menarik selotip dari permukaan. Titik tempat selotip mulai terangkat akan bergerak perlahan sepanjang permukaan.

Dalam kasus Italia, titik tersebut disebut hinge atau zona engsel. Zona ini menjadi bagian penting dari proses delaminasi yang bergerak di bawah Apennini menuju wilayah Adriatik.

Data GPS turut memperkuat gambaran tersebut. Para ilmuwan mengukur peregangan sekitar 4 milimeter per tahun melintasi rangkaian pegunungan. Sementara di bagian depan pegunungan, terdapat gerakan berlawanan berupa pemendekan sekitar 2 milimeter per tahun.

Para peneliti menggambarkannya seperti gerakan akordeon, bagian dalam pegunungan meregang, sementara bagian depannya secara bersamaan mengalami pemendekan. Di sekitar zona tersebut, gempa bumi juga menunjukkan pola berbeda. Di belakang zona engsel, mekanisme gempa lebih banyak menunjukkan kerak sedang ditarik. Di depannya, gempa lebih banyak berkaitan dengan tekanan.

Apa yang sebenarnya terjadi jauh di bawah tanah? Untuk memahaminya, prosesnya perlu dilihat dari dalam ke luar. Bagian bawah kerak dan mantel litosfer yang lebih padat sebelumnya masih melekat pada lempeng yang bergerak turun ke dalam mantel. Kondisi tersebut memberikan beban ke bawah terhadap kerak di atasnya.

Ketika proses delaminasi berlangsung, bagian bawah yang lebih padat itu perlahan terlepas dan tenggelam. Kerak yang tersisa kemudian kehilangan sebagian beban tersebut. Material mantel yang lebih ringan menggantikan material yang lebih padat sehingga kerak dapat mengalami rebound, atau kembali terangkat.

Pergerakan ini kemudian menghasilkan peregangan di belakang zona delaminasi, sementara wilayah di depan zona tersebut masih mengalami tekanan dan penurunan. Analogi 'kerak Bumi membuka ritsleting' memang terdengar dramatis. Namun, proses yang dimaksud berlangsung dalam skala waktu geologi dan kecepatannya hanya beberapa milimeter per tahun.

Jadi, temuan ini bukan prediksi bahwa Italia akan terbelah dalam waktu dekat. Justru penelitian tersebut membantu ilmuwan memahami bagaimana struktur Pegunungan Apennini terbentuk dan mengapa deformasi di kawasan itu begitu kompleks.

Penelitian sebelumnya memang telah mengaitkan perubahan di wilayah tersebut dengan slab rollback, yaitu mundurnya bagian lempeng yang menunjam ke bawah. Proses ini dapat menarik kerak di belakang pegunungan sehingga wilayah tersebut meregang dan turut berperan dalam pembentukan Laut Tyrrhenia.

Namun, mekanisme tersebut tidak sepenuhnya menjelaskan perubahan yang terus berlangsung setelah sekitar 2 juta tahun lalu. Para peneliti mengusulkan bahwa delaminasi yang masih berlangsung dapat menjadi salah satu mesin internal yang menjelaskan pola deformasi saat ini.

Para peneliti sendiri menekankan bahwa gambaran tersebut belum menjadi penjelasan yang sepenuhnya lengkap. Model yang digunakan masih disederhanakan dan struktur lempeng di bawah Apennini belum seluruhnya dipahami.

Dalam penelitian mereka, proses tersebut disebut sebagai dokumentasi empiris yang dibatasi data geodesi mengenai engsel delaminasi yang bermigrasi secara lateral. Sederhananya, ilmuwan kini memiliki bukti bahwa bagian bawah sistem kerak di bawah Apennini tidak hanya diam, tetapi mengalami perubahan yang perlahan bergerak sepanjang pegunungan.



(rns/rns)




Hide Ads