Media pemerintah Iran menyatakan peluncuran sebuah rudal balistik dengan kemampuan yang telah ditingkatkan merupakan bentuk unjuk doktrin baru yaitu negara itu akan mengambil tindakan terhadap ancaman apa pun, bahkan sebelum ancaman itu dilakukan.
Sebelumnya, Kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, membanggakan kemampuan rudal baru tersebut dan mengklaimnya telah diuji coba dengan menargetkan sebuah kapal perang AS.
Namun, belum dapat dipastikan apakah rudal yang diuji coba itu adalah rudal yang dimaksud dalam laporan terbaru ini, yakni rudal berbahan bakar padat Qassem Basir.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
AS menyatakan sejumlah rudal balistik Iran memang telah ditembakkan ke kapal-kapal perang AS. Sebagai balasan, AS menyerang tiga kapal minyak Iran.
Ahli menyebut peluncuran rudal ini eskalasi berbahaya, mengingat biasanya serangan Iran hanya menargetkan pelayaran komersial. Pihak AS mengklaim kapal perangnya berhasil menghindari serangan tersebut.
Kantor berita Iran itu, Press TV, mengklaim kehadiran Qassem Basir menandai titik balik dalam strategi pertahanan Iran. Laporan tersebut mendeskripsikan bahwa rudal ini memiliki jangkauan dan akurasi yang lebih mematikan, serta membawa hulu ledak seberat setengah ton.
Dikutip detikINET dari Associated Pres, rudal tersebut pertama kali diperkenalkan tahun 2025 lalu dan saat itu diklaim memiliki jangkauan setidaknya 1.200 kilometer.
Hulu ledaknya dapat bermanuver, tidak sekadar jatuh mengikuti lintasan lengkung yang tetap ibarat batu yang dilemparkan ke udara. Rudal ini mampu bergeser dan mengoreksi arahnya saat meluncur turun, membuat tugas sistem pertahanan musuh jauh lebih sulit.
Hal yang benar-benar membedakannya dari rudal lawas Iran adalah cara senjata ini menemukan targetnya. Rudal balistik konvensional biasanya dipasok data koordinat sebelum diluncurkan dan menuju satu titik di peta, metode yang sangat tidak efektif untuk menyerang kapal perang yang terus bergerak.
Nah, Qasem Basir dilengkapi sistem pelacak elektro optik dan inframerah pada bagian moncongnya. Sederhananya, rudal ini seakan dibekali sepasang mata dan sensor pendeteksi panas.
'Mata' tersebut baru aktif pada akhir peluncuran, mencocokkan wujud objek di bawahnya, sembari melacak panas yang terpancar dari mesin kapal. Karena mengandalkan visual dan panas alih-alih sinyal satelit, ia tak mudah dilumpuhkan gangguan elektronik atau dikecoh koordinat GPS palsu. Begitu target terkunci, ia tak lagi butuh panduan arah.
Iran menganggapnya salah satu senjata terbaik yang mereka miliki, serta mengklaim rudal ini mampu menembus Patriot maupun THAAD yang jadi tulang punggung pertahanan udara Amerika Serikat. Rudal ini diperkenalkan Mei 2025 dan sebelum akhir pekan ini belum pernah ditembakkan dalam pertempuran nyata.