Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Australia Bergerak 7 Cm per Tahun, Kelak Bisa Jadi Bagian Super Benua

Australia Bergerak 7 Cm per Tahun, Kelak Bisa Jadi Bagian Super Benua


Rachmatunnisa - detikInet

Benua Australia. (Tangkapan layar Google Maps)
Foto: Benua Australia. (Tangkapan layar Google Maps)
Jakarta -

Australia yang terlihat permanen, saat ini sedang bergerak ke arah utara-timur laut dengan kecepatan sekitar 7 cm per tahun. Gerakannya memang terlalu lambat untuk dirasakan manusia. Namun, jika berlangsung selama jutaan tahun, beberapa cm per tahun cukup untuk memindahkan sebuah benua sejauh ribuan kilometer.

Australia bahkan disebut sebagai daratan benua yang bergerak paling cepat di Bumi. Pergerakan ini terjadi karena Australia berada di atas lempeng tektonik yang terus bergerak. Pengukuran GPS dan sistem navigasi satelit dapat merekam perpindahan tersebut secara sangat presisi.

Angka 7 cm mungkin terdengar sepele. Sebagai gambaran, dalam satu tahun Australia bergeser kira-kira sepanjang pertumbuhan kuku manusia. Tetapi dalam 1 juta tahun, jika kecepatannya dianggap tetap, jaraknya bisa mencapai sekitar 70 km. Dalam 10 juta tahun, secara matematis bisa menjadi sekitar 700 km.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tentu saja, gerakan lempeng tidak akan terus berlangsung dengan arah dan kecepatan yang persis sama. Namun, perhitungan sederhana tersebut menunjukkan mengapa pergerakan tektonik yang nyaris tidak terasa dapat mengubah wajah Bumi dalam rentang waktu geologis.

Australia Sedang Mendekati Asia

Pergerakan Australia bukan sekadar fenomena di atas peta. Di bagian utara, lempeng yang membawa Australia sudah berinteraksi dengan wilayah Asia Tenggara. Australia bergerak ke arah kawasan Indonesia, Papua, dan Asia Tenggara yang merupakan salah satu zona tektonik paling rumit di Bumi.

ADVERTISEMENT

Di kawasan ini, lempeng dan fragmen kerak Bumi saling bertabrakan, menunjam, terlipat, dan bergeser. Proses tersebut membantu membentuk pegunungan, menghasilkan gempa bumi, serta memengaruhi aktivitas vulkanik.

Jadi, pergerakan Australia yang hanya beberapa sentimeter per tahun sebenarnya terus memberi tekanan pada kawasan di sekitarnya. Prof Zheng-Xiang Li dari Curtin University sebelumnya menjelaskan bahwa pengukuran GPS global menunjukkan Australia bergerak sekitar 7 cm per tahun menuju Asia.

"Jika tren ini berlanjut, dalam satu atau dua ratus juta tahun Samudra Pasifik akan menutup dan membawa Amerika bertabrakan dengan benua Eurasia, sementara benua Australia akan bergabung dengan superkontinen masa depan 'Amasia'," sebutnya seperti dikutip dari Science Blog.

Namun, bagian tentang Amasia perlu diberi catatan. Australia memang bergerak sekarang. Amasia belum tentu menjadi tujuan akhirnya. Untuk memahami kemungkinan tersebut, kita perlu melihat sejarah Bumi.

Sekitar 200 juta tahun lalu, sebagian besar daratan Bumi masih tergabung dalam satu super benua bernama **Pangaea**. Pangaea kemudian pecah dan bagian-bagiannya perlahan bergerak hingga membentuk susunan benua seperti yang kita kenal sekarang.

Namun, siklus tersebut belum tentu berhenti. Model geodinamika menunjukkan bahwa dalam sekitar 200-300 juta tahun, benua-benua bisa kembali berkumpul membentuk super benua baru. Salah satu skenario yang cukup dikenal adalah Amasia, gabungan nama Amerika dan Asia.

Dalam salah satu model, Samudra Pasifik perlahan menyempit sementara Amerika bergerak ke arah Asia. Australia yang terus bergerak ke utara kemudian ikut terseret ke dalam pertemuan tersebut.

Jika skenario ini benar, peta dunia pada saat itu akan sangat berbeda. Australia tidak lagi berada di bawah Asia seperti posisinya sekarang, melainkan menjadi bagian dari daratan raksasa yang menghubungkan sejumlah benua.

Tetapi para ilmuwan tidak menganggap peta tersebut sebagai ramalan pasti. Pergerakan lempeng dapat berubah ketika terjadi pembentukan zona subduksi baru, perubahan batas lempeng, tumbukan antar-benua, atau perubahan aliran material di mantel Bumi.

Karena itu, Amasia sebaiknya dipahami sebagai salah satu kemungkinan hasil simulasi, bukan peta Bumi yang pasti akan terjadi. Yang jauh lebih pasti adalah bahwa benua-benua memang sedang bergerak sekarang.



(rns/rns)




Hide Ads