Distrik Vasse di Western Australia, malam 27 Agustus 1883, awalnya tenang. Mendadak, Sersan McDonald dari Kantor Polisi Vasse menerima laporan dari Polisi bernama Tonkin. Tonkin mengaku mendengar dentuman keras yang terdengar seperti meriam besar dari arah barat laut berkali-kali sepanjang sore itu.
Namun, tidak ada satupun kapal terlihat dan tidak ada penjelasan masuk akal. Sumber suara sangat sulit dilacak. Apa yang tidak disadari kepolisian saat itu adalah mereka bukan sedang menghadapi fenomena setempat, melainkan peristiwa skala global.
Laporan kepolisian mendokumentasikan kejadian membingungkan tersebut. Selain Tonkin, beberapa warga lainnya juga melaporkan mendengar suara yang sama, yang seolah bergema dari arah lautan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk mencari jawaban, Sersan McDonald mengutus Polisi Sutton ke Cape Naturaliste keesokan harinya. Berbekal teropong, Sutton mengamati perairan untuk mencari tanda keberadaan kapal dalam bahaya.
Sutton kembali dua hari kemudian tanpa hasil. Ia tidak melihat satu pun kapal, puing, maupun aktivitas mencurigakan. Namun, Sutton mencatat fenomena tidak biasa. Pasang surut air laut di Cape Naturaliste mengalami kenaikan dan penurunan dramatis beberapa hari terakhir.
Ia berspekulasi pergerakan pasang surut ini mungkin bisa menjelaskan asal suara misterius tersebut. Tanpa petunjuk lebih lanjut, penyelidikan menemui jalan buntu. Suara yang mengejutkan penduduk Vasse tetap menjadi teka-teki-hingga sains modern akhirnya berhasil memecahkan misteri tersebut.
Bumi Mengaum
Di belahan dunia lain, tepatnya di Indonesia pada tanggal yang sama, Gunung Krakatau meletus dengan kekuatan begitu dahsyat, menghancurkan pulaunya sendiri dan mengirimkan gelombang kejut yang merambat ke seluruh penjuru dunia.
Letusan tersebut memicu tsunami raksasa, meluluhlantakkan wilayah sekitarnya, dan melepas energi sangat besar sehingga suara ledakannya terdengar hingga ribuan kilometer. Peristiwa ini secara luas dianggap sebagai suara terkeras yang pernah tercatat dalam sejarah.
Suara "tembakan" yang terdengar di Vasse sebenarnya gelombang infrasonik yang dihasilkan letusan Krakatau, merambat melintasi jarak sangat jauh melalui atmosfer.
Pasang surut air laut tak wajar yang diamati Sutton juga bagian dari dampak letusan Krakatau yang menjangkau area sangat luas, kemungkinan besar disebabkan gelombang tsunami atau gangguan tekanan atmosfer akibat letusan.
Foto: Particle |
Laporan Sersan McDonald pun menjadi potret ketika alam semesta menunjukkan kekuatan luar biasa dengan cara yang masih sulit dijelaskan ilmu pengetahuan masa itu.
Kaitan antara letusan Krakatau dan suara "tembakan" di Vasse baru terungkap puluhan tahun kemudian, saat para ilmuwan menyatukan berbagai laporan dari seluruh dunia untuk memetakan skala dampak dari letusan tersebut.
Suara Alam Paling Keras
Secara detail, pukul 10:02 pagi tanggal 27 Agustus 1883, pulau vulkanik Krakatau di Selat Sunda, menghasilkan ledakan dengan kekuatan sulit dinalar. Ledakan tersebut adalah yang ketiga, sekaligus yang terkeras, dari empat dentuman puncak dalam rangkaian letusan yang berlangsung berhari-hari dan memuncak sejak pukul 05:30 pagi hari tersebut.
Peristiwa ini meruntuhkan dua pertiga bagian pulau aslinya ke dasar laut, memicu gelombang tsunami setinggi hingga 41 meter yang menewaskan sekitar 36.000 jiwa di sepanjang pesisir Jawa dan Sumatra, serta menghasilkan suara yang sangat keras hingga merambat menyeberangi sekitar sepertiga belas permukaan Bumi.
Dikutip detikINET dari Space News Daily, ledakan ketiga pada pagi itu, yang tercatat pada pukul 10:02 pagi, masih menjadi suara paling keras yang pernah terekam oleh instrumen manusia.
Indikator paling mencolok dari kekuatan akustik letusan tersebut adalah jarak di mana suaranya dapat terdengar. Suara tersebut terdengar sangat jelas sejauh 3.110 kilometer di Perth, Australia Barat.
Suara juga terdengar jelas sejauh 4.800 kilometer di pulau Rodrigues dekat Mauritius, di tengah Samudra Hindia, di mana perwira kolonial Inggris mencatat bahwa mereka mendengar gemuruh seperti meriam berat di kejauhan dan mengira sedang terjadi pertempuran laut jauh dari sana.
Sangat sedikit peristiwa dalam sejarah mampu menghasilkan suara yang terdengar dalam jarak sejauh itu.
(fyk/afr)

