Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Letusan Krakatau 1883 Langsung Viral di Dunia, Kok Bisa?

Letusan Krakatau 1883 Langsung Viral di Dunia, Kok Bisa?


Fino Yurio Kristo - detikInet

Letusan krakatau 1883
Tsunami akibat letusan Krakatau 1883 melemparkan karang dari laut ke darat. Foto: Wikipedia
Jakarta -

Tanggal 26 Agustus 1883, Krakatau meletus dahsyat dan menjadi bencana alam terbesar di abad ke-19 dan dampaknya dirasakan di seluruh dunia. Saat itu untuk pertama kalinya, berita besar semacam ini bisa tersebar luas.

Kekuatan letusan tersebut menghasilkan suara terkeras, terdengar sejauh 4.653 km di Pulau Rodriguez di Samudra Hindia dan sekitar 4.800 km di Alice Springs, Australia

Dikutip detikINET dari Independent, Rabu (9/9/2026) gelombang kejutnya mengelilingi dunia hingga tujuh kali dan kekuatan ledakannya sekitar 10.000 kali lebih besar dari bom yang dijatuhkan di Hiroshima. Bencana ini merenggut 36.000 nyawa, sementara penyintas harus berjuang menghadapi tsunami, letusan susulan, dan awan abu super panas.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saat meletus, gumpalan abu menyembur 80 km ke angkasa, sementara gas panas jadi tak stabil dan menyapu pulau-pulau terdekat dengan kecepatan 150 km/jam.

"Mereka yang tidak terbunuh panas ekstrem, pasti tewas akibat terjangan debu dan pasir kecepatan tinggi. Panasnya cukup menghanguskan apa pun yang dilaluinya," kata Dr. Dave Rothery dari Departemen Ilmu Bumi di Open University.

ADVERTISEMENT

Namun, pembunuh sebenarnya adalah tsunami raksasa yang muncul setelahnya. Tsunami ini mencapai ketinggian 40 meter dan begitu dahsyat hingga melemparkan bongkahan terumbu karang ke darat, di mana beberapa di antaranya seberat 600 ton.

Dunia cukup cepat mendapat berita letusan Krakatau karena serangkaian kabel telegraf bawah laut baru saja dipasang melintasi Bumi. Untuk pertama kali, operator dapat mengomunikasikan berita kepada rekan-rekan mereka di seluruh dunia menggunakan kode morse.

"Ini adalah pertama kalinya gunung berapi meletus dan langsung diketahui saat itu juga. Kabel telegraf bawah laut merupakan jaringan komunikasi yang menjadi cikal bakal internet," cetus Profesor Nick Petford dari Fakultas Ilmu Bumi dan Geologi di Kingston University, London.

Hal tersebut sungguh revolusioner. Krakatau meletus tidak teratur sejak 250 Masehi. Letusan terakhir sebelumnya bahkan jauh lebih kuat dan terjadi hanya 200 tahun sebelum 1883, namun hanya sedikit yang mendengarnya.

Teknologi baru juga berarti letusan Krakatau memicu studi ilmiah modern pertama tentang letusan gunung berapi. "Saat itu, geologi adalah disiplin ilmu yang sangat hidup. Ilmuwan Belanda, Rogier Verbeek, tiba di sana sangat cepat lalu mencatat segalanya. Laporannya merupakan sebuah karya luar biasa," kata Petford.

Verbeek disusul oleh tim ahli geologi dari Royal Society di London. Apa yang langsung terlihat jelas adalah, meskipun dua pertiga pulau Krakatau hancur, serangkaian pulau baru terbentuk. Banyak di antaranya bersifat sementara, tetapi Anak Krakatau yang terbentuk dari sisa-sisa induknya, tetap bertahan sampai sekarang.

Cepat diberitakan

Banyak penduduk dunia masa itu mengetahui tentang bencana Krakatau. Sebelumnya memang pernah terjadi letusan gunung spektakuler seperti Toba dan Tambora di Hindia Belanda, serta Santorini, Hekla, dan Mazama.

Akan tetapi Krakatau adalah bencana pertama di era komunikasi. Ketika Presiden Abraham Lincoln terbunuh tahun 1865, butuh 12 hari bagi berita tersebut untuk sampai dari Washington ke London.

Namun, ketika Krakatau meletus, ada tiga faktor baru yang berperan terhadap kecepatan berita yaitu kode morse telah ditemukan, Julius Reuter mendirikan kantor berita yang dikenal sebagai Reuters, dan kabel telegraf bawah laut telah dikembangkan.

Pesan singkat pertama, "Letusan gunung berapi yang kuat, Pulau Krakatowa", berasal dari agen Lloyd's, perusahaan finansial Inggris yang menempatkan pemantau bencana di berbagai belahan dunia. Agen itu melihat semburan api dari puncak Krakatau.

Pesannya dikirimkan melalui jaringan kabel yang tak lama terputus oleh tsunami. Namun, pesan tersebut berhasil sampai ke Batavia. Dari sana, pesan itu merambat di bawah laut menuju Singapura.

Pesan itu diperkuat, dipancarkan kembali ke Madras, diteruskan ke stasiun di Trincomalee, Kolombo, dan Bombay, lalu melalui Terusan Suez yang baru dibangun menuju Port Said.

Dari sana, pesan melaju melewati Malta dan Gibraltar, melintasi Teluk Biscay menuju Porthcurno di Cornwall, lalu menyeberangi Samudra Atlantik hingga mencapai stasiun penerima Reuters di Newfoundland dan Boston.

Surat kabar The Boston Globe memuat beritanya di halaman depan hanya dalam waktu empat jam. Keesokan paginya, para komuter yang menaiki kereta kuda di Boston dan New York dapat membaca tentang bencana Gunung Krakatau di Indonesia.

(fyk/fay)






Hide Ads
LIVE