Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Cuma China yang Punya Sarjana Logam Tanah Jarang, Ini Dampaknya

Cuma China yang Punya Sarjana Logam Tanah Jarang, Ini Dampaknya


Rachmatunnisa - detikInet

FILE PHOTO: A bastnaesite mineral containing rare earth is pictured at a laboratory of Yasuhiro Kato, an associate professor of earth science at the University of Tokyo, July 5, 2011. REUTERS/Yuriko Nakao/File Photo
Foto: Reuters
Jakarta -

China ternyata bukan hanya unggul karena memiliki cadangan logam tanah jarang (rare earth) yang melimpah. Negeri Tirai Bambu juga menjadi satu-satunya negara di dunia yang memiliki program sarjana khusus logam tanah jarang, sebuah strategi yang memperlihatkan bagaimana mereka membangun dominasi industri ini sejak dari bangku kuliah.

Saat Amerika Serikat dan negara-negara Barat berlomba mengurangi ketergantungan pada pasokan rare earth dari China, Beijing justru telah puluhan tahun berinvestasi pada sumber daya manusia. Mahasiswa di sejumlah kampus dibekali pengetahuan mulai dari eksplorasi, pemisahan, pemurnian, hingga pengembangan material berbasis logam tanah jarang yang menjadi komponen penting kendaraan listrik, turbin angin, semikonduktor, hingga industri pertahanan.

Salah satu pusat pendidikan tersebut berada di Inner Mongolia University of Science and Technology di Baotou, Mongolia Dalam. Kota ini dikenal sebagai jantung industri rare earth China sekaligus lokasi yang berdekatan dengan tambang logam tanah jarang terbesar di dunia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Setelah lulus, banyak mahasiswa langsung bekerja di perusahaan pengolahan rare earth yang berada di kawasan industri Baotou atau melanjutkan penelitian di Baotou Rare Earth Research Institute. Jalur pendidikan dan industri yang saling terhubung inilah yang dinilai menjadi salah satu keunggulan China dibanding negara lain.

China telah membangun ekosistem yang terdiri dari lebih dari 40 laboratorium khusus rare earth yang didukung 11 universitas dan politeknik. Secara keseluruhan, institusi tersebut menerima lebih dari 500 mahasiswa baru setiap tahun dalam program yang berkaitan dengan logam tanah jarang.

ADVERTISEMENT

Keunggulan itu bahkan diakui oleh pelaku industri. Mantan Chief Executive Officer (CEO) Neo Performance Materials dan Molycorp, Constantine Karayannopoulos, mengatakan lulusan universitas di China sudah siap terjun ke dunia kerja tanpa membutuhkan pelatihan panjang.

"Di China, saya dulu merekrut lulusan yang baru keluar dari universitas dan mereka langsung produktif. Di negara lain, saya harus melatih mereka selama tiga tahun," ujar Karayannopoulos, dikutip dari Reuters, Jumat (24/7/2026).

Pernyataan tersebut menggambarkan bagaimana pendidikan tinggi di China dirancang mengikuti kebutuhan industri. Kampus tidak hanya menghasilkan lulusan yang memahami teori, tetapi juga memiliki keterampilan yang langsung dapat diterapkan di sektor pengolahan rare earth.

Keunggulan inilah yang membuat dominasi China tidak hanya bertumpu pada kekayaan sumber daya alam. Negara tersebut juga memiliki pasokan insinyur, peneliti, dan tenaga ahli yang terus diperbarui setiap tahun untuk menopang industri logam tanah jarang.

Rare earth sendiri merupakan kelompok 17 unsur logam yang berperan penting dalam berbagai teknologi modern. Material ini digunakan untuk membuat magnet berkinerja tinggi yang menjadi komponen utama kendaraan listrik, turbin angin, ponsel pintar, chip semikonduktor, hingga peralatan militer seperti radar, rudal berpemandu, dan pesawat tempur.

Ketika banyak negara kini berlomba membangun rantai pasok rare earth sendiri, China sudah lebih dahulu membangun fondasi yang lebih sulit ditiru, yakni ekosistem pendidikan, riset, dan industri yang saling terhubung. Kombinasi inilah yang membuat posisi China sebagai pemain utama logam tanah jarang dunia masih sangat sulit digeser.



(rns/fay)






Hide Ads