Kabar menggembirakan datang dari perairan Raja Ampat, Papua Barat Daya. Penelitian terbaru menunjukkan populasi hiu berjalan Raja Ampat (Raja Ampat walking shark) meningkat pesat setelah mendapat perlindungan penuh dari pemerintah Indonesia.
Studi yang dipublikasikan di jurnal Frontiers in Fish Science mencatat kepadatan hiu berjalan di Selat Dampier, Raja Ampat, menjadi yang tertinggi yang pernah didokumentasikan untuk kelompok hiu berjalan (walking shark) di dunia. Di perairan sekitar Kampung Sawinggrai, peneliti menemukan kepadatan mencapai 2.462 ekor per kilometer persegi.
Peningkatan populasi ini terjadi sekitar tiga tahun setelah Indonesia menetapkan enam spesies hiu berjalan sebagai satwa yang dilindungi penuh pada 2023. Kebijakan tersebut melarang penangkapan maupun pengambilan hiu berjalan dari habitat alaminya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dikutip dari Oceanograhic, selama penelitian, tim ilmuwan mencatat 1.191 kali perjumpaan dengan hiu berjalan dan berhasil mengidentifikasi 736 individu berbeda. Hasil ini menjadi bukti kuat bahwa perlindungan habitat mampu memberikan dampak nyata bagi spesies endemik yang rentan terhadap gangguan lingkungan.
Kenapa Disebut Hiu Berjalan?
Berbeda dengan hiu pada umumnya, hiu berjalan menggunakan sirip dada dan sirip perutnya untuk 'melangkah' di dasar laut atau melintasi terumbu karang dangkal saat air surut. Cara bergerak yang unik ini membuat mereka mampu mencari mangsa seperti ikan kecil, kepiting, siput, dan krustasea di sela-sela karang. Mereka bahkan dapat bertahan di genangan air dangkal saat pasang surut berlangsung.
Namun, kemampuan tersebut juga memiliki konsekuensi. Hiu berjalan dikenal sangat setia pada habitatnya. Dalam penelitian terbaru, peneliti menemukan individu hiu yang diamati hanya berpindah sejauh 475 meter, tanpa ada yang berpindah dari satu pulau ke pulau lain. Mobilitas yang sangat terbatas membuat spesies ini sulit mencari habitat baru ketika lingkungan tempat tinggalnya rusak.
Penelitian juga mengungkap perbedaan habitat antara hiu muda dan dewasa. Sekitar 69% hiu muda ditemukan hidup di kawasan terumbu karang, sementara hiu dewasa lebih banyak berpindah ke padang lamun (seagrass) dan hamparan pasir dangkal. Temuan ini menunjukkan bahwa perlindungan berbagai tipe habitat pesisir menjadi faktor penting bagi kelangsungan hidup spesies tersebut.
Menurut peneliti utama sekaligus Lead Conservation Scientist di Elasmobranch Institute Indonesia, Dr. Edy Setyawan, keterikatan hiu berjalan terhadap habitat pesisir menjadi tantangan tersendiri dalam upaya konservasi.
"Keterikatan mereka yang sangat kuat terhadap habitat pesisir dan perairan dangkal membuat spesies ini rentan terhadap gangguan lokal, seperti pembangunan kawasan pesisir dan pencemaran," ujar Setyawan.
Ia menambahkan bahwa hasil penelitian ini akan membantu memastikan langkah perlindungan benar-benar memberikan dampak di lapangan. "Data ini membantu memastikan bahwa upaya perlindungan benar-benar efektif di lapangan, bukan sekadar menjadi kebijakan di atas kertas," katanya.
Keberhasilan konservasi hiu berjalan di Raja Ampat tidak hanya bergantung pada peneliti dan pemerintah. Warga lokal juga terlibat langsung dalam pemantauan populasi. Penduduk setempat ikut menyusuri terumbu karang saat air surut bersama para ilmuwan untuk mendata keberadaan hiu berjalan.
Keterlibatan masyarakat adat dinilai menjadi salah satu faktor penting di balik meningkatnya populasi spesies endemik tersebut. Salah seorang pemantau hiu dari Kampung Arborek, Ronald Mambrasar, mengatakan hiu berjalan memiliki arti khusus bagi masyarakat Raja Ampat.
"Bagi kami, hiu ini bukan sekadar satwa langka yang harus dilindungi. Mereka adalah tetangga yang hidup di halaman depan rumah kami," ujarnya.
Temuan ini menjadi kabar baik bagi upaya konservasi laut Indonesia. Selain menunjukkan bahwa spesies endemik dapat pulih ketika habitatnya dijaga, penelitian ini juga memperlihatkan pentingnya kolaborasi antara ilmuwan, pemerintah, dan masyarakat lokal dalam melindungi keanekaragaman hayati laut.
(rns/rns)