Lukisan cadas berusia sekitar 2.000 tahun di China ternyata menyimpan fakta mengejutkan. Analisis terbaru menemukan darah manusia diduga digunakan sebagai salah satu bahan untuk membuat lukisan tersebut bertahan di permukaan batu selama ribuan tahun.
Lukisan tersebut berada di kawasan Zuojiang Huashan Rock Art Cultural Landscape, Lembah Sungai Zuojiang, China. Karya seni ini dibuat oleh masyarakat dari kebudayaan Luoyue sekitar 2.600-1.900 tahun lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Yang menarik, para peneliti menduga darah yang digunakan kemungkinan berasal dari perempuan yang baru melahirkan. Dugaan tersebut muncul setelah analisis menemukan jenis protein tertentu dalam bahan pengikat lukisan yang biasanya meningkat pada perempuan selama kehamilan dan menyusui.
Dikutip dari IFL Science, Senin (17/8/2026), lukisan Huashan memiliki warna merah mencolok dan dibuat di permukaan tebing batu kapur yang berada di ruang terbuka. Selama ribuan tahun, kawasan tersebut menghadapi iklim subtropis dengan curah hujan tinggi dan musim hujan monsun. Namun, lukisannya tetap relatif terjaga.
Kondisi tersebut membuat ilmuwan penasaran. Bagaimana lukisan yang berada di luar ruangan bisa bertahan begitu lama tanpa menghilang? Dalam studi terbaru, peneliti menganalisis komposisi kimia bahan yang digunakan untuk membuat lukisan.
Mereka menemukan bahwa pigmen ternyata menempel sangat kuat pada permukaan batu. Bahkan, beberapa sampel harus diambil menggunakan bor listrik untuk melepaskannya.
"Tidak ada bahan pengikat organik alami yang dapat bertahan selama itu dalam kondisi lembap seperti ini," kata para peneliti.
Meski darah ditemukan dalam bahan lukisan, jangan membayangkan warna merah pada mural tersebut berasal dari darah. Pigmen merahnya justru berasal dari tanah liat lokal yang kaya oksida besi.
Darah berfungsi lebih seperti bahan pengikat yang membantu pigmen menempel kuat pada permukaan batu. Proses pembuatannya ternyata cukup kompleks.
Para seniman kuno terlebih dahulu membuat lapisan dasar dengan memanaskan sejumlah bahan, termasuk tulang hewan, kotoran burung, batu kapur, dan cangkang. Campuran tersebut menghasilkan material yang mengandung kalsium fosfat dan kapur tohor.
Kemudian, air dan darah ditambahkan sehingga terbentuk semacam mortar cair. Setelah diaplikasikan ke permukaan batu dan mulai mengering, seniman melapisinya dengan pigmen merah dari tanah liat kaya oksida besi.
Bagian paling menarik dari temuan ini adalah apa yang terjadi secara kimiawi. Protein dalam darah membantu proses yang disebut biomineralisasi pada kalsium karbonat dalam lapisan mortar.
Proses tersebut membuat material pengikat secara kimia menyerupai material batu kapur tempat lukisan dibuat. Akibatnya, partikel pigmen menjadi seperti terperangkap di dalam kalsium karbonat yang terbentuk dan akhirnya menyatu sangat kuat dengan permukaan tebing. Para peneliti menyebut mekanisme tersebut sebagai sistem ikatan komposit organik-anorganik yang stabil.
"Sistem ikatan komposit organik-anorganik yang stabil ini mengungkap proses teknologi kompleks yang digunakan para pembuatnya dan menjelaskan mengapa seni cadas Huashan dapat bertahan dengan sangat baik dalam kondisi yang menantang selama lebih dari dua milenium," tulis para peneliti dalam studi yang dipublikasikan di Journal of Archaeological Science.
Artinya, kemampuan lukisan bertahan bukan semata karena kondisi lingkungan, tetapi juga karena teknologi pembuatan cat yang digunakan masyarakat kuno. Peneliti kemudian menganalisis protein dalam bahan pengikat tersebut.
Hasilnya cukup mengejutkan. Pada salah satu lokasi yang diteliti, lapisan mortar mengandung sekitar 97-99% darah manusia, sementara sisanya sekitar 1-3% berasal dari beberapa spesies hewan herbivora.
Sampel lain mengandung sekitar 61% darah manusia dan 39% darah sapi. Temuan ini menunjukkan bahwa penggunaan darah bukan sekadar kemungkinan teoritis. Jejak biologisnya benar-benar terdeteksi dalam material lukisan.
Namun, masih ada pertanyaan yang lebih sulit dijawab: darah manusia itu berasal dari siapa? Petunjuknya datang dari jenis protein yang ditemukan.
Peneliti mendeteksi prolactin-inducible protein dan lactotransferrin. Kedua protein tersebut biasanya hanya ditemukan dalam jumlah sangat kecil pada kebanyakan orang, tetapi dapat meningkat drastis pada perempuan yang sedang hamil tua atau menyusui.
Di sisi lain, gambar-gambar pada tebing Huashan juga memiliki tema yang kuat berkaitan dengan reproduksi. Lukisan tersebut menampilkan antara lain perempuan hamil, hubungan seksual, dan alat kelamin laki-laki. Para peneliti menilai gambar-gambar tersebut kemungkinan berkaitan dengan kultus kesuburan masyarakat Luoyue.
Berdasarkan kombinasi temuan tersebut, peneliti mengajukan hipotesis bahwa darah yang digunakan mungkin berasal dari perempuan yang mengalami persalinan. Namun, penting dicatat, ini masih berupa dugaan ilmiah, bukan bukti bahwa darah tersebut pasti dikumpulkan saat persalinan.
Temuan ini memberikan gambaran berbeda tentang kemampuan masyarakat kuno. Lukisan Huashan bukan sekadar gambar yang dibuat menggunakan pigmen merah. Di baliknya terdapat teknik material yang cukup rumit: membuat bahan dasar, mencampurnya dengan darah, mengaplikasikannya ke batu, kemudian menambahkan pigmen.
Yang lebih mengejutkan, proses tersebut menghasilkan ikatan yang mampu bertahan menghadapi hujan monsun selama lebih dari 2.000 tahun. Para peneliti pun menilai temuan ini menunjukkan kompleksitas teknologi yang digunakan masyarakat Luoyue dalam membuat karya seni mereka.
Jadi, rahasia awetnya lukisan Huashan ternyata bukan hanya pada pigmen merahnya. Ada darah manusia di balik lapisan cat tersebut-dan mungkin saja, darah itu berkaitan dengan ritual kesuburan masyarakat yang hidup ribuan tahun lalu.