Meski pahit, kenyataannya banyak anak kecil yang kini terpaku dengan gadget di tangannya. Dari gadget itu, anak-anak menonton tayangan video cepat dan overstimulating di platform seperti YouTube, bahkan kadang tanpa pengawasan.
Bulan lalu, Departemen Pendidikan Amerika Serikat merilis pedoman yang merekomendasikan orang tua membatasi waktu menonton layar kurang dari satu jam sehari untuk anak-anak di bawah usia lima tahun. Keluarga disarankan menghindari video bertempo cepat, serta mainan atau alat yang menggunakan kecerdasan buatan.
Konten yang berwarna-warni dan penuh energi seperti video Cocomelon dengan cepat menggantikan televisi tradisional. Anak-anak menonton TV linear 80% lebih sedikit sekarang daripada di tahun 2000-an, akan tetapi waktu menonton layar mereka terus meningkat.
Ironisnya, penelitian pemerintah Inggris yang diterbitkan bulan Januari menemukan bahwa anak-anak yang diberi waktu menonton layar lebih dari satu jam memiliki kosakata lebih kecil dan tingkat masalah emosional dan perilaku yang lebih tinggi daripada mereka yang menonton layar hingga 60 menit setiap hari.
Penelitian tersebut merujuk pada laporan terbaru dari Kindred Squared, badan amal untuk anak usia dini, yang menemukan bahwa 28% anak-anak Inggris yang memulai sekolah dasar tidak tahu cara menggunakan buku, banyak di antaranya mencoba menggeser atau mengetuk halaman fisik seperti tablet.
Semua berubah
Profesor Sam Wass, salah satu pakar terkemuka Inggris di perkembangan otak anak usia dini, telah memberikan masukan untuk panduan pemerintah yang baru. Dia sudah bertahun-tahun mempelajari transformasi konten anak-anak.
Salah satu perbedaan utama yang ia temukan dalam acara YouTube adalah banyaknya pergerakan, mulai karakter hingga kamera.
The Sunday Times kemudian menganalisis 20 item yakni 10 video YouTube yang ditujukan untuk anak-anak berusia lima tahun ke bawah, dan 10 acara dari saluran siaran tradisional yang ditayangkan antara tahun 1983 dan 2019. Ini dia hasilnya.
(ask/ask)