Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Ini Sebabnya Anak-anak Tak Perlu Cepat Akrab dengan Gadget

Ini Sebabnya Anak-anak Tak Perlu Cepat Akrab dengan Gadget


ask - detikInet

Screen Time Lebih dari 1 Jam Sehari Naikkan Risiko Mata Minus 18 Persen pada Anak.
Foto: Getty Images/lucky-sky
Jakarta -

Meski pahit, kenyataannya banyak anak kecil yang kini terpaku dengan gadget di tangannya. Dari gadget itu, anak-anak menonton tayangan video cepat dan overstimulating di platform seperti YouTube, bahkan kadang tanpa pengawasan.

Bulan lalu, Departemen Pendidikan Amerika Serikat merilis pedoman yang merekomendasikan orang tua membatasi waktu menonton layar kurang dari satu jam sehari untuk anak-anak di bawah usia lima tahun. Keluarga disarankan menghindari video bertempo cepat, serta mainan atau alat yang menggunakan kecerdasan buatan.

Konten yang berwarna-warni dan penuh energi seperti video Cocomelon dengan cepat menggantikan televisi tradisional. Anak-anak menonton TV linear 80% lebih sedikit sekarang daripada di tahun 2000-an, akan tetapi waktu menonton layar mereka terus meningkat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

Ironisnya, penelitian pemerintah Inggris yang diterbitkan bulan Januari menemukan bahwa anak-anak yang diberi waktu menonton layar lebih dari satu jam memiliki kosakata lebih kecil dan tingkat masalah emosional dan perilaku yang lebih tinggi daripada mereka yang menonton layar hingga 60 menit setiap hari.

Penelitian tersebut merujuk pada laporan terbaru dari Kindred Squared, badan amal untuk anak usia dini, yang menemukan bahwa 28% anak-anak Inggris yang memulai sekolah dasar tidak tahu cara menggunakan buku, banyak di antaranya mencoba menggeser atau mengetuk halaman fisik seperti tablet.

Semua berubah

Profesor Sam Wass, salah satu pakar terkemuka Inggris di perkembangan otak anak usia dini, telah memberikan masukan untuk panduan pemerintah yang baru. Dia sudah bertahun-tahun mempelajari transformasi konten anak-anak.

Salah satu perbedaan utama yang ia temukan dalam acara YouTube adalah banyaknya pergerakan, mulai karakter hingga kamera.

The Sunday Times kemudian menganalisis 20 item yakni 10 video YouTube yang ditujukan untuk anak-anak berusia lima tahun ke bawah, dan 10 acara dari saluran siaran tradisional yang ditayangkan antara tahun 1983 dan 2019. Ini dia hasilnya.

Selalu bergerak

Gerakan yang terlalu cepat dan tiada henti dapat menyebabkan 'mabuk siber'. Ini merupakan suatu bentuk mabuk perjalanan yang disebabkan oleh seseorang yang melihat gerakan yang memusingkan sementara tubuh mereka tetap diam.

Namun, mabuk siber umumnya terjadi pada orang dewasa dan anak-anak di atas enam tahun, tetapi jauh lebih jarang terjadi pada balita. Berikut ini analisis perbandingan seberapa cepat program-program di YouTube dan TV.

Hasil penelitian The Sunday Times.Hasil penelitian The Sunday Times. Foto: The Sunday Times

Semakin cepat dan cepat

Meskipun episode Blippi sebagian besar dilakukan dalam satu pengambilan gambar, hal ini jauh dari norma dalam acara anak-anak di YouTube. Penelitian Wass menemukan bahwa acara di CBeebies dipotong setiap 16,7 detik, dibandingkan dengan setiap 1,5 detik dalam klip YouTube.

Dalam acara yang dianalisis oleh The Sunday Times, hampir semua video YouTube menampilkan pengambilan gambar yang lebih cepat dari acara siaran. Cocomelon dari Moonbug Entertainment dipotong setiap 1,2 detik dan Little Baby Bum setiap 0,9 detik. Di sisi lain, episode Kipper tahun 1997 dipotong setiap tujuh detik sementara untuk In the Night Garden hampir setiap 12 detik.

Hasil penelitian The Sunday Times.Hasil penelitian The Sunday Times. Foto: The Sunday Times

"Ketika informasi masuk ke otak kita terlalu cepat, mekanisme perkembangan awal lainnya berarti batang otak kita mengirimkan sinyal ke seluruh tubuh kita untuk meningkatkan tingkat gairah dan kewaspadaan kita secara keseluruhan," jelas Wass.

"Ada bukti yang sangat kuat bahwa layar memicu sistem saraf simpatik -- respons 'melawan atau lari' -- pada anak-anak dan itulah mengapa kita berpikir anak-anak cenderung rewel ketika mereka berhenti menggunakan layar," imbuhnya.

Anak-anak memproses informasi lebih lambat daripada orang dewasa, yang membuat efek ini memiliki dampak khusus.

Studi terhadap lebih dari 40.000 anak di Shenzhen, China, mengaitkan konten animasi anak-anak yang serba cepat (bahkan yang bersifat edukatif) dengan risiko ADHD lebih tinggi. Studi tersebut menemukan bahwa konten ini dapat berdampak buruk pada kemampuan anak untuk berkonsentrasi dan mengatur diri sendiri.

"(Serta) dapat merangsang sistem perhatian anak secara berlebihan, yang menyebabkan berkurangnya perhatian terhadap dunia nyata dan memengaruhi perkembangan kognitif dan emosional," begitu bunyi penelitian tersebut.

Warna-warna cerah

Sejak televisi anak-anak beralih dari era hitam-putih, para kreator telah menggunakan warna-warna neon yang mencolok untuk menarik perhatian pemirsa mereka. Analisis Sunday Times mengidentifikasi seberapa mencolok warna-warna dalam 20 video tersebut dengan melihat kecerahan warnanya.

Dari 20 video tersebut, yang paling berwarna cerah berasal dari saluran siaran tradisional. Yang paling cerah, diukur dengan warna rata-rata pada spektrum dari hitam (0) hingga putih murni (255), adalah Peppa Pig, Hey Duggee, dan Kipper.

Yang paling jenuh, yang mengukur intensitas warna, adalah Kitty's Games, Pink Fong (pencipta lagu Baby Shark yang populer pada tahun 2016), dan In the Night Garden.

Anak-anak kecil merespons warna-warna cerah dan kontras tinggi karena warna-warna tersebut membantu mereka untuk mempersepsikan bentuk saat penglihatan mereka berkembang. Warna-warna primer fluoresen digunakan untuk sebagian besar mainan anak-anak, karena warna-warna tersebut merangsang secara visual, yang secara alami mendorong anak-anak untuk berinteraksi.

Lonjakan tiba-tiba dalam kecerahan atau saturasi video, seperti efek kilat atau strobo, memengaruhi otak dengan cara yang mirip dengan gerakan cepat. Wass menyebutnya sebagai 'penangkapan perhatian yang tidak disengaja'. Ketika hal ini digunakan secara berlebihan untuk berulang kali mendapatkan kembali perhatian penonton, hal itu menyebabkan stimulasi berlebihan yang sama pada sistem saraf simpatik.

Hasil penelitian The Sunday Times.Hasil penelitian The Sunday Times. Foto: The Sunday Times

Jangan terlalu cepat

"Ada banyak bukti bahwa otak anak-anak belajar dan memproses informasi -- baik visual maupun makna, seperti alur cerita -- jauh lebih lambat daripada orang dewasa. Mereka belajar paling baik dari interaksi yang sangat sederhana dan berulang," jabar Wass.

Penelitian semakin menghubungkan konten yang cepat dan minim kontinuitas ini dengan rentang perhatian yang berkurang dan defisit fungsi eksekutif seperti kesulitan menunda kepuasan dan pengaturan diri.

Para ahli saraf umumnya sepakat bahwa pada usia lima tahun, otak anak telah mencapai 90% dari ukuran otak orang dewasa, menjadikan tahun-tahun masa kanak-kanak ini sangat penting untuk perkembangan kognitif dan emosional.

Kesimpulan

Dari hasil penelitian dan data yang dijabarkan di atas, sudah sepatutnya orangtua untuk mempertimbangkan kembali memberikan gadget terlalu dini untuk anak-anak mereka. Dampak yang dihasilkan ternyata mengganggu tumbuh kembang anak.

Mungkin, sudah saatnya untuk memperbanyak aktivitas fisik anak dan menghabiskan waktu berkualitas bersama anak lebih banyak. Dengan demikian, screen time mereka di YouTube atau video cepat lainnya akan lebih terbatas.

(ask/ask)








Hide Ads