Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Langit Australia Menyala Merah Mengerikan, Ada Apa?

Langit Australia Menyala Merah Mengerikan, Ada Apa?


Fino Yurio Kristo - detikInet

Langit merah Australia
Langit merah menyala di beberapa wilayah di Australia. Foto: Futurism
Jakarta -

Siklon tropis Narelle mencetak sejarah pekan lalu di Australia, menjadi badai pertama dalam lebih dari 20 tahun terakhir yang mendarat di tiga negara bagian dan teritori Australia. Narelle menghantam dengan angin badai dan hujan lebat.

Badai ini juga menunjukkan kehadirannya dengan cara sangat menyeramkan. Tepat sebelum mendarat, badai ini mengubah langit menjadi bernuansa merah terang bak hari kiamat. Warnanya bahkan lebih pekat dan lebih merah tua daripada langit oranye pekat di Amerika Utara akibat kebakaran hutan yang meluas.

Video-video yang beredar di dunia maya memperlihatkan fenomena ini dengan jelas. Dikutip detikINET dari Futurism, penduduk setempat menatap pemandangan tersebut seakan tak percaya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Langit terus berubah menjadi semakin oranye seiring berjalannya sore, lalu, sekitar pukul 15.30, kami pergi ke luar dan warnanya sudah seperti itu," kata seorang warga bernama Kerrie Shepherd. "Warnanya merah di sepanjang jalan, ke mana pun kami memandang."

"Tidak, itu bukan filter! Langit berubah menjadi warna merah yang menyeramkan di Australia Barat saat debu memenuhi udara menjelang kedatangan Siklon Tropis Narelle," tulis AccuWeather di Facebook.

ADVERTISEMENT

Jadi, apa yang bisa menjadi penyebab di balik fenomena alam ini? Seperti dijelaskan oleh NOAA, batuan kaya zat besi di barat laut Australia teroksidasi dalam cuaca panas yang kering sehingga mendapatkan rona kemerahan yang ikonik.

"Saat karat meluas, ia melemahkan batu dan membuatnya lebih mudah pecah. Ini adalah bagian negara yang sangat merah, memiliki rona berkarat tersebut, jadi Anda melihat warna itu tersapu oleh angin kencang," kata pengamat cuaca senior Angus Hines.

Awan tebal mempertegas efek tersebut. "Ini adalah bagian negara cukup kering, jadi setiap kali angin kencang, debu itu dietrbangkan ke atmosfer. Rasanya seperti cahaya menyinari tanah secara merata, seperti panel lampu dan bukannya satu lampu sorot yang terang," jelas Hines.

Para penghuni di Shark Bay Caravan Park setempat merasa lebih baik tidak mengambil risiko menghirup udara berkarat tersebut. "Ini adalah hari untuk berdiam di dalam ruangan bagi kami, itu sudah pasti," tulis pengelola taman karavan tersebut di Facebook.




(fyk/rns)
TAGS




Hide Ads